Kaspersky Fokus pada Pengguna B2B dan B2C di APAC

Kaspersky menyoroti cross-segmentation unik antara pengguna B2C dan B2B, serta memanfaatkan ritel kuat di Asia-Pasifik (APAC).

Kaspersky menyoroti strategi uniknya dalam menjangkau konsumen. Perusahaan melihat adanya tumpang tindih yang signifikan antara pengguna bisnis (B2B) dan konsumen individu (B2C).

Kehadiran ritel yang kuat di wilayah Asia-Pasifik (APAC) dimanfaatkan oleh Kaspersky untuk memperdalam penetrasi pasar, khususnya ke sektor korporat dan infrastruktur.

Menurut Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, bisnis B2B perusahaan mengalami pertumbuhan positif. Oleh karena itu, cross-reference menjadi sangat penting.

Adrian Hia menjelaskan bahwa bisnis B2B telah tumbuh dengan baik selama tiga tahun terakhir. Di APAC, dua pertiga bisnis berasal dari korporat atau B2B, sementara sepertiga berasal dari B2C. Hal ini diungkapkan kepada Medcom.id di Hotel Sheraton, Tsim Sha Tsui, Hong Kong, Selasa 3 Maret 2026.

"Cross-reference selalu penting sejak awal. Itulah mengapa kami bekerja sama dengan universitas, agar mahasiswa dan lulusan baru mengenal keamanan siber dan merek Kaspersky sejak dini. Jadi, ketika mereka masuk dunia kerja, mereka sudah familiar dengan brand dan kapabilitas kami," kata Adrian.

Prinsip dasar perlindungan laptop pribadi dan perusahaan pada dasarnya sama. Kaspersky terus mempromosikan mereknya sejak masa sekolah agar dikenal luas. Dengan demikian, saat memasuki dunia kerja, merek tersebut sudah familiar. Inilah cara Kaspersky menggabungkan portofolio B2B dan B2C.

Kaspersky tetap melayani dua layanan bisnis, B2B dan B2C. "Uniknya, kami adalah sedikit perusahaan keamanan siber yang masih melakukan keduanya," kata Adrian.

Adrian menambahkan, banyak perusahaan besar seperti CrowdStrike, Palo Alto, dan Cisco yang tidak lagi fokus pada B2C. Kaspersky tetap melayani kedua sisi bisnis.

Recommended