Sebanyak 818.939 serangan spyware berhasil digagalkan di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun 2025 sebagai bentuk peningkatan ancaman sebesar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data komprehensif ini dirilis oleh perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, melalui laporan terbarunya yang diterima pada Mei 2026.
Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan dengan lonjakan deteksi mencapai 35 persen berdasarkan laporan yang dilansir dari Medcom. Jumlah serangan di Indonesia meningkat dari 143.804 kasus pada 2024 menjadi 194.626 serangan selama periode 2025.
Kenaikan paling tajam di kawasan regional justru terjadi di Singapura yang mencatat lonjakan hingga 111 persen. Tren ini menunjukkan pergeseran strategi pelaku ancaman yang kini lebih fokus pada pengumpulan intelijen secara terarah melalui jaringan perusahaan.
"Jaringan perusahaan kini menjadi lahan perburuan subur untuk informasi sensitif," ujar Simon Tung, General Manager ASEAN di Kaspersky. Menurutnya, spyware bekerja secara rahasia untuk mencuri data pribadi serta rahasia perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.
Operasi ForumTroll menjadi salah satu serangan paling menonjol yang terungkap pada Maret 2025. Kampanye spionase ini menyasar sektor pemerintahan, media, dan keuangan dengan mengeksploitasi kerentanan pada Google Chrome melalui metode email phishing yang sangat personal.
Pelaku serangan tersebut diketahui menggunakan perangkat lunak canggih seperti LeetAgent dan Dante untuk mengekstraksi intelijen bernilai tinggi. Perlindungan terhadap data strategis dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga keamanan operasional bisnis di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sebagai langkah mitigasi, organisasi direkomendasikan untuk rutin melakukan pembaruan perangkat lunak guna menutup celah kerentanan. Pembatasan paparan Remote Desktop Protocol (RDP) ke jaringan publik juga menjadi poin krusial yang disarankan oleh pihak Kaspersky.
Langkah strategis lainnya mencakup pengadopsian solusi keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan visibilitas infrastruktur. Selain itu, pencadangan data secara teratur dan terisolasi dari jaringan utama tetap menjadi prosedur standar yang harus dijalankan perusahaan.