Keterikatan anak-anak terhadap perangkat gawai atau gadget telah menjadi fenomena yang tak terhindarkan. Mereka kerap kali terpaku pada tayangan video berdurasi singkat dan bersifat overstimulating di berbagai platform digital, seringkali tanpa pengawasan yang memadai.
Sebagai respons, Departemen Pendidikan Amerika Serikat pada bulan lalu merilis panduan. Pedoman tersebut menyarankan orang tua untuk membatasi durasi menonton layar bagi anak-anak di bawah usia lima tahun maksimal satu jam setiap hari. Selain itu, keluarga disarankan untuk menghindari tayangan video bertempo cepat serta perangkat yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Tayangan dengan visual yang energik dan berwarna-warni, seperti video Cocomelon, kini mendominasi pilihan anak-anak, menggeser televisi tradisional. Observasi menunjukkan bahwa anak-anak menonton TV linear 80% lebih sedikit dibandingkan era tahun 2000-an, meskipun demikian, total waktu mereka di depan layar terus mengalami peningkatan.
Sebuah studi yang dilansir dari Detik iNET, diterbitkan pemerintah Inggris pada Januari 2026, mengungkapkan temuan yang ironis. Anak-anak yang memiliki durasi menonton layar lebih dari satu jam per hari cenderung memiliki perbendaharaan kosakata yang lebih terbatas. Mereka juga menunjukkan tingkat masalah emosional dan perilaku yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang hanya menonton layar hingga 60 menit setiap hari.
Studi tersebut mengacu pada laporan terbaru dari Kindred Squared, sebuah yayasan amal untuk anak usia dini. Laporan tersebut menemukan bahwa sekitar 28% anak-anak di Inggris yang baru memasuki sekolah dasar tidak memahami cara menggunakan buku. Banyak dari mereka, dilaporkan, mencoba menggeser atau mengetuk halaman fisik buku seperti halnya mereka berinteraksi dengan tablet.
Percepatan Gerakan dalam Konten
Profesor Sam Wass, seorang pakar terkemuka di Inggris dalam bidang perkembangan otak anak usia dini, turut berkontribusi dalam perumusan panduan pemerintah yang baru. Ia telah mengkaji perubahan konten anak-anak selama bertahun-tahun.
Salah satu perubahan signifikan yang diidentifikasi oleh Wass dalam acara YouTube adalah tingginya tingkat pergerakan, baik dari karakter maupun pergerakan kamera. Gerakan yang cepat dan terus-menerus ini berpotensi memicu kondisi yang dikenal sebagai 'mabuk siber'. Ini adalah bentuk mabuk perjalanan yang diakibatkan oleh visual bergerak yang memusingkan, sementara tubuh tetap statis.
Meskipun 'mabuk siber' lebih sering terjadi pada orang dewasa dan anak-anak di atas enam tahun, insiden ini lebih jarang ditemukan pada balita. Analisis perbandingan kecepatan program di YouTube dan TV tradisional menunjukkan perbedaan mencolok.
Penelitian oleh Wass menemukan bahwa acara di CBeebies rata-rata mengalami pemotongan setiap 16,7 detik, sementara klip YouTube dipotong setiap 1,5 detik. The Sunday Times juga menganalisis 20 video (10 dari YouTube untuk anak di bawah lima tahun dan 10 acara TV tradisional dari tahun 1983-2019) dan menemukan bahwa hampir semua video YouTube menampilkan pengambilan gambar yang lebih cepat.
Sebagai contoh, Cocomelon dari Moonbug Entertainment memiliki durasi pemotongan setiap 1,2 detik, dan Little Baby Bum setiap 0,9 detik. Sementara itu, episode Kipper pada tahun 1997 dipotong setiap tujuh detik, dan In the Night Garden hampir setiap 12 detik.
Profesor Wass menjelaskan, "Ketika informasi masuk ke otak kita terlalu cepat, mekanisme perkembangan awal lainnya berarti batang otak kita mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita untuk meningkatkan tingkat gairah dan kewaspadaan kita secara keseluruhan."
Ia menambahkan, "Ada bukti yang sangat kuat bahwa layar memicu sistem saraf simpatik – respons 'melawan atau lari' – pada anak-anak dan itulah mengapa kita berpikir anak-anak cenderung rewel ketika mereka berhenti menggunakan layar." Anak-anak memproses informasi lebih lambat daripada orang dewasa, sehingga efek ini memiliki dampak khusus pada mereka.
Sebuah studi terhadap lebih dari 40.000 anak di Shenzhen, Cina, mengaitkan konten animasi anak-anak yang serba cepat, termasuk yang bersifat edukatif, dengan risiko ADHD yang lebih tinggi. Studi tersebut menyimpulkan bahwa konten semacam ini dapat memberikan dampak negatif pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan mengatur diri sendiri. Penelitian itu juga menyebut bahwa hal tersebut, "dapat merangsang sistem perhatian anak secara berlebihan, yang menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap dunia nyata dan memengaruhi perkembangan kognitif dan emosional."
Peran Warna Cerah dalam Konten Anak
Sejak transisi televisi anak-anak dari era hitam-putih, para kreator telah menggunakan warna-warna neon mencolok untuk menarik perhatian pemirsa muda. Analisis The Sunday Times mengidentifikasi tingkat kecerahan warna dalam 20 video tersebut.
Dari 20 video yang dianalisis, program dari saluran siaran tradisional justru memiliki warna yang paling cerah. Peppa Pig, Hey Duggee, dan Kipper memiliki tingkat kecerahan tertinggi, diukur dari spektrum warna hitam (0) hingga putih murni (255). Sementara itu, program dengan saturasi warna paling tinggi, yang mengukur intensitas warna, adalah Kitty's Games, Pink Fong (pencipta lagu Baby Shark), dan In the Night Garden.
Anak-anak kecil secara alami merespons warna-warna cerah dan kontras tinggi, karena warna-warna ini membantu mereka mempersepsikan bentuk seiring dengan perkembangan penglihatan mereka. Warna primer fluoresen sering digunakan dalam mainan anak-anak karena stimulasi visualnya, yang mendorong interaksi.
Lonjakan mendadak dalam kecerahan atau saturasi video, seperti efek kilat atau strobo, memengaruhi otak serupa dengan gerakan cepat. Wass menyebutnya sebagai 'penangkapan perhatian yang tidak disengaja'. Penggunaan berlebihan efek ini untuk menarik kembali perhatian penonton dapat menyebabkan stimulasi berlebihan pada sistem saraf simpatik.
Belajar Lebih Baik dari Interaksi Sederhana
Profesor Wass menekankan, "Ada banyak bukti bahwa otak anak-anak belajar dan memproses informasi—baik visual maupun makna, seperti alur cerita—jauh lebih lambat daripada orang dewasa. Mereka belajar paling baik dari interaksi yang sangat sederhana dan berulang."
Penelitian secara konsisten menghubungkan konten yang bergerak cepat dan minim kontinuitas dengan berkurangnya rentang perhatian serta defisit fungsi eksekutif, seperti kesulitan dalam menunda kepuasan dan pengaturan diri. Para ahli saraf umumnya sepakat bahwa pada usia lima tahun, otak anak telah mencapai 90% dari ukuran otak orang dewasa, menjadikan masa kanak-kanak ini sangat krusial bagi perkembangan kognitif dan emosional.
Temuan ini menggarisbawahi pentingnya bagi orang tua untuk mempertimbangkan kembali pemberian gadget terlalu dini kepada anak-anak. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh paparan layar berlebihan berpotensi mengganggu tumbuh kembang mereka. Sebaiknya, orang tua memperbanyak aktivitas fisik dan waktu berkualitas bersama anak-anak untuk membatasi durasi layar pada platform digital.