Kemampuan teknologi rudal Iran dilaporkan telah mencapai level yang memungkinkan pengangkutan hulu ledak nuklir untuk serangan jarak jauh pada Selasa (21/4/2026). Pakar kebijakan penerbangan dan rudal Israel, Tal Inbar, menyebutkan bahwa kapasitas muatan dan ruang fisik pada kompartemen menjadi faktor penentu utama kapabilitas tersebut.
Dilansir dari Detik iNET, rudal dengan kapasitas hulu ledak minimal 500 kilogram secara teoretis dapat dipasangi perangkat nuklir. Hal ini mencakup seri rudal balistik jarak menengah Shahab-3, serta varian yang lebih mutakhir seperti Ghadr dan Emad yang telah dioperasikan dalam konflik regional.
"Itu bukanlah masalah teknis besar. Mereka sudah memiliki rudal yang mampu membawa beban yang diperlukan," kata Tal Inbar, Pakar Kebijakan Penerbangan, Luar Angkasa, dan Isu Rudal. Penegasan ini mengacu pada kesiapan infrastruktur persenjataan Teheran saat ini.
Selain jangkauan operasional 1.800 kilometer yang telah digunakan, Iran diketahui memiliki jenis rudal lain yang mampu menjangkau lebih dari 2.000 kilometer. Pengembangan lebih lanjut terlihat pada Ghaem-100, sebuah kendaraan peluncur luar angkasa milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berpotensi membawa muatan hingga radius 5.000 kilometer.
Iran juga dilaporkan telah menguji teknologi Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles (MIRV). Teknologi ini memungkinkan satu unit rudal membawa beberapa hulu ledak untuk menyerang target yang berbeda secara simultan, meskipun status operasional penuh dari sistem ini belum terbukti secara publik.
Sejarah program ini berawal dari perang Iran-Irak pada 1980-an ketika Iran mengakuisisi rudal Scud dari Korea Utara dan Libya sebagai cetak biru produksi lokal. Meskipun kini Iran dan Korea Utara mengembangkan jalur teknis yang berbeda, sistem persenjataan keduanya dinilai masih kompatibel secara teknis.
Terkait status nuklirnya, dokumen yang diungkap pada 2018 menunjukkan Iran telah menguji hampir seluruh komponen bom nuklir sebelum tahun 2003. Saat ini, Teheran memiliki cadangan uranium yang diperkaya hingga 60 persen, jumlah yang cukup untuk membuat setidaknya 10 inti bom atom jika ditingkatkan ke level 90 persen.
Proses persenjataan atau konversi gas uranium menjadi hulu ledak fungsional diduga direncanakan berlangsung di fasilitas Isfahan. Hingga saat ini, para analis tetap memantau ambang batas nuklir Iran karena kepemilikan senjata tersebut biasanya akan ditunjukkan sebagai bentuk deterensi militer.