Kemampuan rudal yang dimiliki Iran menjadi perhatian global. Para ahli pertahanan memberikan analisis mengenai kapabilitas rudal Iran dan potensi jangkauan serangannya.
Rudal balistik menggunakan roket sebagai peluncur. Setelah terpisah dari roket, rudal ini bergerak menuju target dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Jarak jangkau rudal sangat dipengaruhi oleh ukuran roket yang digunakan.
Rudal balistik jarak pendek memiliki kemampuan terbang antara 500 hingga 1.000 km dan dapat diluncurkan dari kendaraan bergerak. Fungsi utama rudal ini adalah untuk melumpuhkan infrastruktur pertahanan vital, seperti radar.
Sementara itu, rudal balistik jarak menengah memiliki jangkauan 1.000 hingga 3.000 km. Jenis rudal ini digunakan untuk menyerang sasaran strategis seperti pusat komando dan kendali yang menjadi lokasi koordinasi operasi militer. Rudal balistik dengan kemampuan jarak menengah beroperasi pada rentang 3.000 hingga 5.500 km, sehingga mampu menjangkau wilayah geografis yang lebih luas.
Rudal balistik antarbenua (ICBM) memiliki jangkauan antara 5.000 hingga 10.000 km, memungkinkan serangan terhadap target di area yang sangat luas. Senjata jarak jauh ini memerlukan roket bertingkat. Roket tersebut terbang sangat tinggi, keluar dari atmosfer dan memasuki ruang angkasa, sebelum kembali ke Bumi. Pertanyaannya, jenis rudal mana yang dimiliki Iran?
Iran memiliki program rudal balistik yang cukup besar. Selama bertahun-tahun, Iran telah mengembangkan sejumlah rudal balistik jarak pendek. Sistem Fateh, Shahab-2, dan Zolfaghar termasuk dalam rangkaian senjata tersebut, seperti dilansir The Conversation, Rabu (25/3/2026).
Rudal-rudal ini memiliki jangkauan hingga 800 km, yang tidak cukup bagi Iran untuk menyerang Israel secara langsung karena jarak terdekat antara kedua negara sekitar 900 km. Namun, milisi yang didukung Iran telah menempatkan senjata-senjata ini di negara tetangga, seperti Lebanon dan Suriah, dan meluncurkannya dari sana dalam serangan terhadap Israel.
Iran juga mengembangkan rudal balistik jarak menengah seperti Shahab-3, Sejjil, dan Khorramshahr. Jangkauan rudal tersebut mencapai 2.000 km, yang berarti dapat mencapai Israel langsung dari Iran.
Namun, Iran dilaporkan menggunakan hulu ledak yang lebih kecil yang memberikan rudalnya jangkauan 3.000 km. Serangan rudal ke Diego Garcia juga menjadi perdebatan. Amerika dan Israel menuding Iran sebagai pelaku, namun Iran membantah dan mengklaim operasi tersebut sebagai false flag dari Israel dan Amerika untuk memprovokasi Inggris. Beberapa pengamat berpendapat, jika serangan itu benar dilakukan Iran, kemungkinan besar menggunakan Khorramshahr yang telah dimodifikasi.
Klaim Kekuatan yang Tidak Terlalu Besar
Meskipun klaim serangan jarak jauh Iran di Diego Garcia mengejutkan dunia, pakar pertahanan AS berpendapat bahwa serangan itu lebih ditujukan untuk efek psikologis dan politik daripada menimbulkan ancaman militer nyata.
Perlu diperhatikan bahwa tantangan tambahan dalam mengerahkan rudal balistik jarak menengah adalah biaya yang sebanding dengan ukuran roket yang dibutuhkan. Roket dua tahap yang dapat terbang sejauh 4.000 km mungkin merupakan salah satu senjata termahal yang dimiliki Iran. Oleh karena itu, kecil kemungkinan mereka memiliki banyak rudal jenis ini.
Kabar serangan tersebut menarik perhatian dunia dan dapat meningkatkan tekanan untuk pendekatan diplomatik untuk mengakhiri konflik dengan Iran dengan segera.