Laporan riset terbaru NTT DATA pada Kamis (16/4/2026) mengungkapkan bahwa hanya 14 persen organisasi secara global yang telah mencapai tingkat kematangan cloud tertinggi untuk mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini menunjukkan mayoritas perusahaan belum memiliki infrastruktur memadai untuk mengadopsi teknologi mutakhir tersebut secara optimal.
Studi bertajuk Cloud-led Innovation in the Era of AI yang dilansir dari Medcom melibatkan lebih dari 2.300 pengambil keputusan di 33 negara. Hasil riset tersebut memaparkan adanya kesenjangan antara ambisi penggunaan AI dengan realitas kesiapan infrastruktur pendukung di lapangan.
Data menunjukkan 99 persen responden menyadari bahwa implementasi AI memicu peningkatan kebutuhan investasi pada infrastruktur cloud. Namun, sebanyak 88 persen pemimpin bisnis justru merasa tingkat investasi saat ini berisiko menghambat pengembangan aplikasi cloud-native dan modernisasi perusahaan.
Hambatan utama dalam inovasi ini ditemukan pada ketergantungan terhadap sistem lama, dengan 50 persen responden menyatakan aplikasi dan platform data legacy menjadi kendala besar. Hal ini memaksa organisasi menempatkan modernisasi sebagai prioritas utama dalam dua tahun mendatang.
"Perusahaan yang gagal mengembangkan fondasi cloud yang kuat berisiko menghambat pertumbuhan dan nilai investasi AI mereka sendiri," kata Charlie Li, President Global Head of Cloud and Security NTT Data, Inc. Ia menegaskan cloud kini berfungsi sebagai lapisan eksekusi utama AI.
Peran Chief AI Officer (CAIO) tercatat mulai menggeser dominasi CIO atau CTO tradisional dalam hal kesadaran investasi. Para CAIO ditemukan 22 persen lebih sadar akan pentingnya penguatan fondasi cloud demi keberhasilan integrasi kecerdasan buatan dalam proses bisnis.
Guna mengatasi hambatan tersebut, NTT DATA menyarankan penyelarasan strategi cloud dengan arsitektur hybrid atau sovereign cloud. Fokus metrik perusahaan juga perlu dialihkan dari sekadar aspek teknis menuju pencapaian hasil bisnis yang lebih nyata dan strategis.