Kemdiktisaintek Salurkan Rp1,7 Triliun Dana Riset untuk 18.215 Penerima

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk 18.215 penerima pendanaan riset di seluruh Indonesia pada 2026.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengumumkan penyaluran dana riset dan pengembangan sebesar Rp1,7 triliun untuk tahun 2026. Sebanyak 18.215 penerima dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia akan memanfaatkan alokasi ini. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan informasi ini dalam keterangan tertulis pada Jumat, 10 April 2026, seperti dilansir dari Medcom.

Brian Yuliarto mengapresiasi dedikasi para penerima yang telah berupaya keras menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan sektor industri sangat krusial agar inovasi tidak hanya berhenti di lingkup akademis, namun juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.

Penguatan sains dan teknologi diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan serta pemerataan ekonomi demi mewujudkan Indonesia yang mandiri dan kompetitif. "Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegas Brian Yuliarto.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa skema pendanaan tahun ini dirancang untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset dengan dampak yang signifikan. Seluruh program ini diarahkan untuk menyediakan solusi konkret bagi beragam tantangan nasional, mulai dari isu stunting hingga percepatan pengendalian sampah terpadu.

Beberapa tantangan yang menjadi fokus meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, penurunan angka tuberkulosis, hilirisasi industri strategis, serta pengembangan industri semikonduktor. Program ini juga mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera, upaya penurunan kemiskinan, hingga penguatan ekosistem riset secara keseluruhan.

Sembilan program utama yang menjadi jalur penyaluran pendanaan tersebut antara lain Program Penelitian, Program Pengabdian kepada Masyarakat, Program Hilirisasi Riset Prioritas, dan Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak. Selain itu, ada juga Program Inovasi Seni Nusantara, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT), Program Mahasiswa Berdampak, Program Pengujian Model dan Prototipe, serta Program PHC-Nusantara.

Distribusi Pendanaan dan Bidang Strategis

Secara nasional, penerima pendanaan berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi yang tersebar di 38 provinsi. Dari total penerima, 40 persen berasal dari perguruan tinggi negeri (PTN) dan PTN berbadan hukum, sementara 60 persen berasal dari perguruan tinggi swasta.

Pendanaan ini difokuskan untuk memperkuat delapan bidang strategis nasional. Sektor kesehatan memperoleh porsi pendanaan terbesar, mencapai 27 persen. Bidang ketahanan pangan menyusul dengan 25 persen, disusul hilirisasi dan industrialisasi sebesar 16 persen. Digitalisasi, termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor, mendapatkan 15 persen dari total anggaran.

Selanjutnya, energi dialokasikan 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen. Seluruh bidang prioritas ini juga diperkuat dengan riset sosial humaniora. Diharapkan setiap penelitian mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan industri dengan pendekatan berbasis masalah.

Detail Program Pendanaan

Program Penelitian

Dari 83.284 usulan, sebanyak 13.028 proposal dinyatakan lolos dengan total pendanaan Rp1,04 triliun. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas riset dosen serta mendorong riset dasar dan terapan yang relevan.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)

Sebanyak 3.328 tim penerima dari 15.728 usulan mendapatkan total Rp167 miliar. Program ini fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), kelompok rentan, serta masyarakat adat.

Program Hilirisasi Riset Prioritas

Program ini menyalurkan Rp318 miliar untuk 925 proposal dari 2.488 usulan. Tujuannya adalah mempercepat pemanfaatan hasil riset melalui hilirisasi dan transfer teknologi, termasuk kemitraan dengan industri dan pemerintah daerah.

Program Pengujian Model dan Prototipe

Sebanyak 354 proposal dari 985 usulan lolos pendanaan sebesar Rp46 miliar. Fokusnya pada tahap pengujian dan penyempurnaan hasil riset agar siap digunakan lebih luas, mencakup uji fungsi, kinerja, dan validasi lapangan.

Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB)

Seratus dua konsorsium menerima Rp62,4 miliar. Program ini mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi, industri, dan mitra strategis dalam riset terintegrasi berfokus pada isu prioritas.

Pusat Unggulan IPTEK-PT

Tujuh belas Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT) menerima total Rp7,85 miliar untuk memperkuat kapasitas kelembagaan riset.

Program Mahasiswa Berdampak

Dua ratus dua judul kegiatan dengan total dana Rp21,9 miliar didanai. Sebanyak 10.090 mahasiswa diterjunkan ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk mendukung pemulihan pascabencana melalui pemanfaatan ilmu dan inovasi.

Program Inovasi Seni Nusantara (PISN)

Sebanyak 244 judul karya seni didanai dengan total Rp17,5 miliar. Program ini berupaya mengembangkan karya seni yang berakar pada tradisi budaya Indonesia.

Program PHC-Nusantara

Lima belas judul riset kolaborasi tim Indonesia–Prancis dari 72 proposal menerima anggaran Rp2,2 miliar. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas riset.

Seluruh informasi mengenai status pendanaan proposal dapat diakses oleh pengusul melalui sistem BIMA (bima.kemdiktisaintek.go.id) dan Hiliriset (hiliriset.kemdiktisaintek.go.id) sesuai program yang diajukan. Upaya ini merupakan bagian dari penguatan sains dan teknologi sebagai pilar pembangunan nasional berkelanjutan.

Recommended