Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjemput puluhan anak jalanan untuk kembali mengecap bangku pendidikan melalui program Sekolah Rakyat di Politeknik STIA LAN, Jakarta Pusat, pada Rabu, 22 April 2026. Langkah proaktif ini diambil pemerintah guna menekan angka putus sekolah di kalangan anak-anak yang bekerja di jalanan.
Berdasarkan data yang dilansir dari Medcom, sebanyak 37 persen dari total siswa di Sekolah Rakyat tersebut merupakan anak-anak yang sebelumnya menghabiskan waktu mereka di jalanan. Pemerintah melakukan penyisiran langsung untuk mengajak mereka kembali ke jalur pendidikan formal yang selama ini terabaikan.
"Dari 77 yang kita undang, 29 di antaranya kita temukan di jalan," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Politeknik STIA LAN Jakarta, Rabu 22 April 2026. Penjemputan ini menjadi bagian dari strategi baru pemerintah dalam menangani masalah kesenjangan pendidikan di wilayah perkotaan.
Anak-anak yang terjaring tersebut rata-rata bekerja untuk membantu menopang stabilitas ekonomi keluarga mereka. Kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka terpaksa meninggalkan sekolah dan fokus mencari penghasilan di ruang publik.
Pemerintah kini menerapkan metode jemput bola karena pendekatan konvensional dinilai belum efektif menjangkau kelompok rentan ini. Setiap anak yang ditemukan akan melalui proses verifikasi terlebih dahulu untuk memastikan kelayakan dan kebutuhan bantuan yang tepat.
Program Sekolah Rakyat di Politeknik STIA LAN ini diposisikan sebagai solusi jangka pendek dan menengah bagi anak putus sekolah. Fokus utama program adalah mengembalikan minat belajar siswa dan memastikan mereka mendapatkan hak pendidikan yang setara.
Temuan banyaknya anak usia sekolah di jalanan dipandang sebagai alarm keras bagi pemerintah terhadap kondisi sosial saat ini. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur bagi penerapan metode serupa di berbagai wilayah lain di Indonesia.