Kesehatan Mental Anak dan Remaja Mendesak Jadi Bagian Kurikulum Nasional

Kondisi darurat kesehatan mental pada anak dan remaja di Indonesia mendorong Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat agar isu ini masuk kurikulum pendidikan nasional.

Kondisi darurat kesehatan mental yang dialami anak dan remaja di Indonesia saat ini mendesak semua pihak untuk mengambil langkah nyata dan terintegrasi. Hal ini mendorong Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, agar kesehatan mental menjadi bagian inti dalam kurikulum pendidikan nasional.

Penanganan terintegrasi dinilai sangat krusial untuk menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa. Demikian disampaikan Lestari, sebagaimana dilansir dari Medcom pada Sabtu, 11 April 2026.

Data Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan bahwa sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, didominasi depresi dan kecemasan. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bulan Maret 2026, yang melaporkan satu dari sepuluh anak di Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.

Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining, 363.326 anak (4,8 persen) menunjukkan gejala depresi, dan 338.316 anak (4,4 persen) mengalami gejala kecemasan. Ironisnya, dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen anak dan remaja yang menerima penanganan profesional.

Perempuan yang akrab disapa Rerie ini berpendapat, beberapa kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja belakangan ini, seperti insiden anak membunuh ibu di Sumbawa, NTB, dan di Semarang, Jawa Tengah, bukanlah fenomena anomali. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan gejala dari kegagalan sistem dalam membekali mereka dengan kemampuan dasar sebagai manusia, yaitu memahami diri sendiri.

Anggota Komisi X DPR RI ini juga mengkritisi sistem pendidikan nasional yang cenderung terlalu mengagungkan angka, peringkat, dan pencapaian kognitif, namun mengabaikan kesehatan mental serta kematangan emosi.

Lestari menegaskan, apabila kondisi ini terus berlanjut, sekolah berisiko tanpa disadari menjadi lingkungan yang justru menciptakan tekanan, alih-alih membangun ketahanan mental. Oleh karena itu, kesehatan mental harus terintegrasi sebagai bagian inti dari kurikulum nasional.

Rerie menjelaskan bahwa anak-anak saat ini tumbuh di tengah lingkungan dengan tekanan yang semakin kompleks. Namun, mereka belum sepenuhnya dibekali kemampuan untuk memahami dan mengelola tekanan tersebut.

Tanpa adanya upaya intervensi yang serius, bangsa ini berisiko kehilangan satu generasi karena tumbuh dalam kerentanan terhadap ancaman kesehatan jiwa. Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menambahkan, untuk mewujudkan bangsa yang kuat, dibutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental.

Rerie menekankan pentingnya komitmen kuat dan langkah nyata dari para pemangku kepentingan guna menciptakan mekanisme yang tepat. Hal ini bertujuan untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter kuat, dan memiliki daya saing di masa depan.

Recommended