Ketidakpastian Global Bayangi Bitcoin, Altcoin Tertekan di Titik Terendah

Pergerakan Bitcoin dan altcoin masih di bawah bayang-bayang ketidakpastian global, dengan lebih dari 40% altcoin mendekati level terendah sepanjang masa.

Pasar aset kripto, khususnya Bitcoin dan berbagai altcoin, masih bergejolak di tengah ketidakpastian global. Dalam 24 jam terakhir pada 31 Maret 2026, harga Bitcoin sempat naik tipis 1,05% mencapai USD67.200 (sekitar Rp1,14 miliar), meskipun sebelumnya sempat menyentuh USD68.000. Namun, kenaikan ini tidak berlangsung lama dan menjelang penutupan kuartal I-2026, harga kembali menunjukkan pergerakan yang terbatas, seperti dilansir dari Medcom.

Dominasi Bitcoin di pasar saat ini berada di kisaran 58,6%. Sementara itu, total kapitalisasi pasar kripto global mengalami peningkatan sebesar 1,2%, mencapai USD2,29 triliun. Meskipun sempat terjadi penguatan di awal pekan karena sentimen positif dari meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, momentum tersebut gagal bertahan akibat kekhawatiran pasar yang kembali muncul.

Panji Yudha, seorang Financial Expert dari Ajaib, mengungkapkan bahwa kondisi pasar yang tidak menentu menyebabkan kinerja Bitcoin secara tahun berjalan (YTD) masih terkoreksi cukup dalam, mencapai minus 23,7%. Meski demikian, ia melihat adanya peluang perbaikan pada kuartal II-2026, dengan merujuk pada pola historis yang menunjukkan rata-rata kenaikan lebih dari 27% dalam 12 tahun terakhir.

Di sisi lain, tekanan terhadap aset berisiko semakin meningkat karena lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak WTI tercatat naik 5,3%, mendekati USD105 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 2022. Peningkatan harga minyak ini memperkuat sentimen risk-off di pasar global. Indikator psikologis pasar juga mencerminkan kondisi tersebut, dengan Fear & Greed Index yang masih bertahan di level 8, menunjukkan fase ketakutan ekstrem di pasar.

Altcoin Terperosok, Likuiditas Menipis

Kekhawatiran yang lebih besar muncul dari segmen altcoin. Lebih dari 40% altcoin saat ini diperdagangkan pada level mendekati titik terendah sepanjang masa (all-time low/ATL) per 30 Maret 2026. Data yang diungkap oleh analis kripto Darkfost ini, seperti dikutip dari Liputan6.com, menunjukkan skala penurunan yang lebih parah dibandingkan kondisi saat bear market sebelumnya.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait likuiditas dan permintaan di pasar kripto. Darkfost menjelaskan bahwa tekanan terhadap altcoin saat ini jauh lebih berat dibanding fase awal siklus pasar. Sebagai perbandingan, pada puncak bear market sebelumnya, sekitar 38% altcoin berada di dekat titik terendah, sementara kini angkanya telah melampaui 40%.

Kombinasi tekanan makroekonomi dan masalah struktural di pasar kripto, ditambah konflik geopolitik di Timur Tengah, menjadi penyebab utama pelemahan ini. Lonjakan jumlah token di pasar kripto juga memperparah kondisi. Darkfost memperkirakan jumlah token kini melampaui 47 juta, dengan sekitar 22 juta di Solana, 18 juta lebih di Base, dan sekitar 4 juta di BNB Smart Chain. Jumlah aset yang sangat besar ini menyebabkan likuiditas pasar terpecah belah.

Akibatnya, banyak token kecil mengalami minim aktivitas perdagangan dan dukungan harga yang lemah. Pandangan ini sejalan dengan analis Wise Crypto, yang mencatat bahwa total kapitalisasi pasar altcoin telah turun di bawah USD1 triliun. Ethereum (ETH) bahkan sempat turun di bawah USD2.000, sementara Solana (SOL) merosot sekitar 12% dalam dua hari.

Respons Kebijakan Moneter dan Peluang di Tengah Tekanan

Di tengah tekanan pasar, ada sedikit redanya kekhawatiran dari sentimen kebijakan moneter. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga minyak jangka pendek dan tetap berfokus menjaga ekspektasi inflasi. Pernyataan ini langsung direspons positif oleh pasar obligasi.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,35%, dan tenor 2 tahun melemah ke 3,83%. Probabilitas kenaikan suku bunga pada tahun 2026 juga menurun drastis dari 25% menjadi hanya 5% berdasarkan data CME Group melalui FedWatch. Kondisi ini memberikan sedikit ruang bagi pasar keuangan global, termasuk aset kripto, meskipun volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi.

Menariknya, di tengah tekanan pasar, aktivitas institusional justru menunjukkan arah berbeda. Perusahaan BitMine dilaporkan mengakumulasi 71.179 ETH senilai USD143 juta. Langkah ini menjadikan mereka pemain institusi yang agresif di saat banyak perusahaan lain menahan ekspansi. Hal ini juga sejalan dengan laporan dari Liputan6.com yang menyebutkan adanya arus masuk dana lebih dari USD1,13 miliar ke ETF Bitcoin spot di AS sepanjang Maret ini, menandai berakhirnya tren arus keluar selama empat bulan sebelumnya.

Meskipun kondisi pasar sedang tertekan, analis Darkfost menilai bahwa situasi seperti ini di masa lalu justru membuka peluang bagi investor yang mampu mengidentifikasi proyek kripto yang kuat. Namun, volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat, dipengaruhi oleh agenda ekonomi Amerika Serikat seperti rilis laporan tenaga kerja Maret dan pidato Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.

Recommended