KKP Targetkan Pembangunan 1.369 Kampung Nelayan Rampung Tahun 2026

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengejar target pembangunan 1.369 kampung nelayan pada tahun 2026 guna mengentaskan kemiskinan di wilayah pesisir.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan 1.369 kampung nelayan di seluruh Indonesia selesai pada tahun ini guna mempercepat penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Penegasan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Sekjen KKP, Andi Artha Donny Oktopura, di Jakarta pada Senin (27/4/2026).

Proyek pengembangan kawasan pesisir ini merupakan bagian dari instruksi presiden untuk mengubah wajah lokasi yang selama ini dikenal sebagai kantong kemiskinan menjadi pusat produksi yang lebih produktif. Berdasarkan laporan Andi yang dilansir dari Detik Finance, saat ini terdapat sekitar 100 kampung yang sedang dalam tahap pengerjaan.

KKP memproyeksikan sebanyak 100 kampung nelayan yang masuk tahap awal tersebut akan mulai beroperasi pada akhir Mei atau awal Juni 2026. Pemerintah optimis infrastruktur baru ini akan meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil tangkapan laut masyarakat setempat agar sesuai dengan standar industri.

"Jadi, kalau saat ini kami alhamdulillah sudah menyelesaikan di tahun ini, kita ditugaskan untuk menyelesaikan 1.369 kampung. Dan di tahun ini kami sudah menjalankan kurang lebih 100, cuma presiden minta 1.269 di tahun ini, sehingga totalnya nanti 1.369 lah di tahun ini," kata Andi Artha Donny Oktopura, Plt Sekjen KKP.

Peningkatan pendapatan nelayan menjadi salah satu indikator keberhasilan program yang disoroti oleh pihak kementerian. Berdasarkan uji coba pemodelan yang dilakukan di Biak pada 2023, pendapatan nelayan dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat setelah fasilitas pendukung tersedia.

Data KKP menunjukkan rata-rata penghasilan nelayan di lokasi percontohan tersebut naik dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 7 juta per bulan. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh perbaikan infrastruktur distribusi dan penerapan teknologi pascapanen yang lebih modern di lapangan.

Selain peningkatan secara finansial, pembangunan sistem rantai dingin atau cold chain menjadi fokus utama dalam proyek ini. Fasilitas tersebut memungkinkan ikan tangkapan menjaga kesegarannya lebih lama sehingga mampu menembus pasar industri yang lebih luas di luar wilayah lokal.

Andi menjelaskan bahwa produk perikanan dari Biak kini telah didistribusikan ke perusahaan-perusahaan besar di Bitung, Semarang, hingga Jakarta. Standar mutu yang terjaga membuat nilai jual komoditas meningkat dan memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional.

Recommended