Komdigi Klarifikasi Polemik Rating IGRS di Steam: Bukan Klasifikasi Resmi

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa rating Indonesia Game Rating System (IGRS) di Steam bukan klasifikasi resmi pemerintah.

Sistem klasifikasi usia game, Indonesia Game Rating System (IGRS), yang diterapkan di platform distribusi digital Steam telah memicu perdebatan di kalangan warganet. Banyak rating yang dinilai janggal, dengan beberapa game dewasa dilabeli aman untuk anak-anak, sementara judul populer lainnya justru dinyatakan tidak layak didistribusikan di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menanggapi polemik ini dengan mengklarifikasi bahwa label usia yang muncul di Steam saat ini bukan merupakan hasil klasifikasi resmi pemerintah. Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi menegaskan rating tersebut bersumber dari mekanisme internal Steam yang berbasis penilaian mandiri (self-declare).

Penerapan IGRS, yang mulai terintegrasi di Steam sejak awal 2026, menimbulkan beberapa kejanggalan. Misalnya, game dewasa seperti Nukitashi mendapatkan rating 3+, sementara game naratif lokal A Space for the Unbound diberi label 18+. Bahkan, beberapa game besar seperti Grand Theft Auto V dan Girls’ Frontline disebut masuk kategori RC (Refused Classification), yang berpotensi menyebabkan pemblokiran di Indonesia.

Kondisi ini menuai kritik dari pelaku industri game. CEO Toge Productions, Kris Antoni, menyampaikan protes melalui media sosial, menyoroti inkonsistensi penilaian yang merugikan developer dan membingungkan pemain, seperti dilansir dari Medcom. Para analis menduga masalah ini muncul karena proses klasifikasi yang terlalu mengandalkan sistem otomatis tanpa verifikasi manual yang memadai.

Klarifikasi Komdigi dan Kewajiban Platform

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menjelaskan bahwa rating di Steam berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik. Komdigi menekankan bahwa setiap pelaku usaha digital memiliki kewajiban untuk menyajikan informasi yang akurat dan jelas, sekaligus melindungi pengguna sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang UU ITE, Permen Kominfo Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Gim, dan Permen Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat.

Sonny menambahkan, Komdigi akan meminta klarifikasi dari Steam dan membahas lebih lanjut kepatuhan terhadap regulasi nasional. Ia menegaskan, Komdigi akan menindaklanjuti dengan sanksi administratif jika ditemukan pelanggaran, serta terus menyempurnakan sistem IGRS untuk memastikan klasifikasi game lebih akurat dan terpercaya.

Latar Belakang dan Tujuan IGRS

IGRS sendiri bukanlah kebijakan baru. Sistem klasifikasi usia game digital ini telah diumumkan secara resmi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital sejak 11 Oktober 2025 dalam ajang Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) 2025 di Bali. Tujuan utamanya adalah menghadirkan standar nasional untuk mengatur klasifikasi konten game di Indonesia.

Menurut Shafiq Husein, Ketua Asosiasi Game Indonesia (AGI), IGRS tidak akan menghambat industri game nasional, justru memperluas pasar bagi pengembang lokal dengan menargetkan audiens yang tepat. Sistem ini membagi klasifikasi usia menjadi 3+, 7+, 13+, 15+, dan 18+. IGRS juga mendorong developer untuk bertanggung jawab mencantumkan label usia yang sesuai, dengan pemerintah melakukan pemantauan berkala.

Mekanisme Penyesuaian dan Perbandingan Internasional

Komdigi mengakui bahwa kejanggalan rating IGRS pada Steam terjadi karena platform tersebut masih dalam tahap penyesuaian sistem internal. Komdigi dan IGRS saat ini sedang membahas kerja sama formal dengan Steam untuk penerapan rating yang lebih akurat dan sesuai ketentuan di Indonesia.

Kondisi ini juga dibandingkan dengan Jerman, yang sejak 15 November 2024, telah membatasi tampilan game tanpa rating usia valid di Steam. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi mengadopsi kebijakan serupa di masa mendatang. Komdigi terus mendorong penyesuaian bertahap agar IGRS dapat berfungsi optimal sebagai standar resmi untuk pengelolaan distribusi konten game di Indonesia.

Recommended