Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah berimplikasi pada terganggunya pasokan dan harga sulfur di pasar global. Situasi ini memaksa perusahaan untuk memperkuat strategi pengamanan ketersediaan bahan baku penting tersebut. Seperti dilansir dari Detik Finance, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyoroti tantangan ini.
Kebutuhan sulfur nasional sangat bergantung pada impor, dengan sekitar 75% pasokan berasal dari kawasan Timur Tengah. Daconi menjelaskan bahwa kawasan Teluk Persia menyumbang sekitar 33% dari total perdagangan sulfur dunia, atau sekitar 20 juta ton per tahun. Oleh karena itu, gangguan logistik dan geopolitik di wilayah tersebut secara langsung memengaruhi stabilitas harga dan ketersediaan sulfur.
Saat ini, kebutuhan asam sulfat di Indonesia mencapai kurang lebih 19 juta ton setiap tahunnya. Sektor pupuk dan industri hilirisasi nikel menjadi kontributor utama terhadap permintaan yang tinggi ini. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat permintaan sulfur terbesar di dunia.
Petrokimia Gresik turut berperan krusial dalam memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Perusahaan ini memiliki fasilitas produksi asam sulfat dengan kapasitas mencapai 1,8 juta ton per tahun. Fasilitas ini terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan berbagai produk kimia lainnya, sehingga berkontribusi pada penguatan pasokan bahan baku di kancah domestik.
Strategi Pengamanan Pasokan
Menghadapi dinamika geopolitik global, Petrokimia Gresik dituntut untuk memperkuat strategi pengamanan pasokan bahan baku. Penguatan rantai pasok dan optimalisasi kapasitas produksi di dalam negeri menjadi fokus utama.
Beberapa langkah strategis telah diambil oleh Petrokimia Gresik, meliputi diversifikasi sumber pasokan sulfur, penguatan kontrak jangka panjang guna menjaga stabilitas harga dan pasokan, serta peningkatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan baku. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga ketahanan industri pupuk dan kimia nasional.
Sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK. Selain itu, kedua bahan ini juga vital untuk beragam industri lain, seperti pengolahan logam, pengolahan air, dan sektor kimia lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daconi.
Dorongan Hilirisasi dan Energi Hijau
Indonesia saat ini menjadi pusat permintaan sulfur global. Hal ini didorong oleh kebijakan hilirisasi mineral serta ekspansi rantai pasok baterai nikel, seiring dengan pertumbuhan produksi baterai untuk kendaraan listrik (EV).
Peningkatan kebutuhan sulfur juga dipicu oleh proses high-pressure acid leaching (HPAL) yang memerlukan jumlah asam sulfat besar, serta regulasi lingkungan yang semakin ketat yang meningkatkan kebutuhan pengolahan berbasis sulfur.
Daconi menegaskan bahwa fokus utama Petrokimia Gresik adalah menjaga stabilitas pasokan dan produksi untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pupuk nasional. Upaya ini dianggap penting dalam mendukung swasembada pangan nasional. Perusahaan terus mengoptimalkan upaya dalam menjaga keberlangsungan produksi melalui penguatan rantai pasok dan kapasitas domestik demi ketahanan pangan nasional.