Gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi global dan memicu kenaikan inflasi. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) melalui laporan terbarunya, memprediksi perlambatan signifikan pada pertumbuhan ekonomi dunia.
Prediksi tersebut menunjukkan penurunan dari 3,3% pada tahun sebelumnya menjadi hanya 2,9% untuk tahun 2026. Data ini termuat dalam laporan OECD Outlook, Interim Report: Testing Resilience edisi Maret 2026, yang dikutip dari Detik Finance.
Meskipun demikian, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat kembali menyentuh level 3% pada tahun 2027 mendatang. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak serius pada sejumlah pilar penopang pertumbuhan ekonomi dunia.
Salah satu faktor utamanya adalah penutupan Selat Hormuz yang hampir melumpuhkan total pengiriman energi secara global. Situasi ini memicu kenaikan harga energi secara drastis.
Sebelum pecahnya konflik antara Iran dan gabungan Amerika Serikat (AS) dengan Israel, OECD sebenarnya telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global yang lebih kuat. Namun, lonjakan harga energi serta ketidakpastian konflik yang sulit diprediksi telah menghilangkan momentum positif dari investasi teknologi.
Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, menyatakan tingkat ketidakpastian yang tinggi terkait durasi dan skala konflik ini. "Hal ini berdampak prospek ekonomi yang berpotensi mengalami penurunan signifikan. Bahkan (pertumbuhan ekonomi) bisa lebih rendah dan inflasi lebih tinggi," ujar Cormann, sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu (29/3/2026).
Dengan kenaikan harga energi yang terjadi saat ini, laju inflasi di negara-negara G20 diproyeksikan mencapai 4,0% pada tahun 2026. Angka ini 1,2 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, menunjukkan dampak nyata dari krisis energi.
OECD juga memaparkan skenario terburuk, di mana jika harga energi terus melambung dan bertahan untuk jangka waktu yang lebih lama, pertumbuhan global bisa merosot lagi hingga 0,5%. Pada saat yang sama, inflasi global berpotensi meningkat tambahan 0,9%.
Awalnya, jika konflik ini tidak meletus, OECD berencana melakukan revisi naik pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,3 poin persentase untuk tahun 2026. Namun, potensi kenaikan tersebut kini lenyap sepenuhnya akibat dampak peperangan yang berkelanjutan.