Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, UMKM Tertekan

Kenaikan harga biji plastik hingga 60% imbas konflik Timur Tengah menekan UMKM. Pemerintah mencari pasokan alternatif dari Afrika, India, dan AS.

Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah telah memicu kenaikan signifikan pada harga bahan baku plastik, menimbulkan tekanan berat bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Gangguan pada rantai pasok global, khususnya logistik pengiriman nafta dari kawasan Timur Tengah, menjadi penyebab utama lonjakan harga ini.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menyampaikan bahwa ketegangan antara Iran dan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel telah mengganggu suplai nafta, yang merupakan bahan baku utama plastik. Akibatnya, harga biji plastik melonjak drastis, dengan laporan kenaikan rata-rata 40-60%.

Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah-langkah untuk meredam gejolak harga biji plastik di pasar domestik. Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah mengalihkan sumber impor nafta ke negara-negara yang dianggap lebih stabil secara geopolitik.

Maman Abdurrahman menyebutkan tiga negara yang akan menjadi pemasok baru, yaitu Afrika, India, dan Amerika Serikat. Menurut Maman, proses administrasi dan pengiriman dari ketiga negara ini sedang berjalan. Upaya ini dikoordinasikan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

"Sekarang ini kita sudah dapat dari Afrika, India dan Amerika. Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macemnya," ujar Maman di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026), seperti dilansir dari Antara News.

Langkah ini juga menjadi catatan evaluasi bagi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada daerah rawan konflik di masa mendatang. Selain itu, Kementerian Perdagangan juga berencana melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga, seperti diberitakan oleh Bisnis.com.

Dampak Kenaikan Harga pada UMKM dan Inflasi

Kenaikan harga bahan baku plastik berdampak langsung pada biaya produksi UMKM, terutama sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan. Para pedagang, seperti pedagang gorengan Moja (37) di Parung Panjang, merasakan lonjakan harga kantong plastik dari Rp10.000 menjadi Rp17.000 per pak setelah Lebaran.

Meskipun biaya produksi meningkat, banyak UMKM memilih untuk tidak menaikkan harga jual produk demi menjaga daya beli konsumen. Konsekuensinya, margin keuntungan mereka tergerus secara signifikan. "UMKM kan dia juga perlu menjaga harga barang mereka di mata masyarakat dan di mata pembeli. Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuman akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, cost produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik,” tutur Maman.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menilai kenaikan harga plastik berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Hal ini terjadi karena banyak pelaku usaha yang pada akhirnya terpaksa menaikkan harga produk untuk menutupi biaya produksi yang membengkak, ketimbang terus menekan margin keuntungan.

"Jika perang berkepanjangan maka yang akan terjadi maka inflasi tak terhindarkan, sektor riil melemah, ketidakpastian meningkat. Akibatnya pertumbuhan ekonomi berpotensi menurun," ucap Esther kepada Bisnis.com.

Ancaman Kelangkaan Pasokan dan Diversifikasi Jangka Panjang

Selain kenaikan harga, pasokan bahan baku plastik juga menghadapi kelangkaan. Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier, menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan serius pada rantai pasok. Situasi diperparah dengan perusahaan asuransi yang enggan menanggung pengiriman melalui selat tersebut, serta negara-negara pemasok di Asia seperti Tiongkok, Thailand, dan Vietnam yang memprioritaskan kebutuhan domestik.

Kemampuan industri petrokimia dalam negeri yang hanya mampu memenuhi sekitar 50-60% kebutuhan membuat Indonesia sangat bergantung pada impor, terutama dari Timur Tengah dan sebagian dari Tiongkok. Kekhawatiran ini mendorong pemerintah untuk tidak hanya mencari solusi jangka pendek, tetapi juga strategi jangka panjang.

Maman Abdurrahman mengungkapkan pemerintah sedang menyiapkan diversifikasi bahan baku plastik dengan memanfaatkan biomaterial seperti rumput laut dan singkong. Saat ini, pembahasan dan penjajakan dengan sejumlah UKM yang telah memproduksi plastik berbasis rumput laut sedang dilakukan. Diharapkan, substitusi ini dapat mengurangi ketergantungan pada nafta dan menekan biaya produksi dalam jangka panjang.

Recommended