Krisis Chip AI dan Geopolitik Ancam Ketersediaan Ponsel Murah

Dominasi smartphone murah dari China terancam oleh lonjakan harga chip memori akibat AI dan ketegangan geopolitik, membuat ponsel terjangkau semakin langka.

Era dominasi ponsel pintar harga terjangkau asal China yang menawarkan spesifikasi tinggi mulai menghadapi tantangan serius. Model bisnis dengan margin keuntungan tipis yang selama ini diandalkan, kini goyah akibat tekanan signifikan dari berbagai arah. Salah satu faktor utama adalah lonjakan harga chip memori global yang dipicu oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).

Situasi ini diperparah ketegangan geopolitik yang mengganggu stabilitas rantai pasok semikonduktor di seluruh dunia. Jika kondisi ini terus berlanjut, industri smartphone diprediksi akan memasuki fase suram. Ponsel terjangkau akan semakin langka dan harganya tidak lagi ramah kantong konsumen, seperti dilansir dari Medcom.

Tanda-tanda krisis ini terlihat jelas pada ajang Mobile World Congress (MWC) awal Maret. Beberapa vendor memperkenalkan perangkat terbaru, namun tampak kesulitan menetapkan harga jual final. Volatilitas biaya komponen utama, terutama chip memori, menjadi pemicu ketidakpastian ini.

Contohnya, Xiaomi sempat mengumumkan seri ponsel terbarunya dengan harga 999 euro (sekitar Rp 19,5 juta). Namun, para analis meyakini harga tersebut sangat mungkin direvisi saat produk tersebut benar-benar tersedia di toko.

Akar permasalahan utama krisis ini terletak pada peningkatan masif permintaan chip memori untuk mendukung pusat data AI. Server AI memerlukan jenis memori berkecepatan tinggi yang dikenal sebagai high-bandwidth memory (HBM). Memori ini sering dipasangkan dengan unit pengolah grafis (GPU) canggih, seperti buatan Nvidia.

Menanggapi tingginya permintaan HBM, produsen memori besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mengubah arah produksi mereka. Mereka mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi dari memori konvensional untuk ponsel dan PC ke memori khusus server AI yang lebih menguntungkan. Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen menjadi sangat terbatas.

Lembaga riset TrendForce mencatat, harga DRAM (memori utama/RAM) melonjak hingga 90-95 persen hanya dalam satu kuartal. Sementara itu, harga NAND flash (memori penyimpanan internal) naik 55-60 persen di periode yang sama. Laporan Counterpoint Research juga menyoroti bahwa harga DRAM telah meningkat lebih dari 50% pada kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Harga NAND Flash juga naik lebih dari 90% pada periode yang sama. Hal ini menyebabkan kenaikan biaya produksi (Bill of Material/BOM) secara eksponensial.

Situasi ini semakin mencekam bagi pabrikan ponsel skala kecil. Pasalnya, harga DRAM dilaporkan bisa berubah dalam hitungan jam. Sebagian besar pabrikan kecil tidak memiliki kontrak pasokan harga tetap jangka panjang. Ini berbeda dengan perusahaan besar seperti Apple atau Samsung. Ratusan ribu pabrikan ponsel menengah ke bawah kini harus bersaing ketat untuk mendapatkan sisa pasokan chip memori yang harganya sangat tinggi.

Strategi Apple dan Dampaknya

Di tengah kelangkaan komponen memori global, Apple disebut mengambil langkah agresif. Mereka membeli hampir seluruh stok mobile DRAM yang tersedia di pasar, bahkan dengan harga tinggi. Strategi ini berpotensi menekan pasokan bagi kompetitor, seperti dikutip dari Medcom.

Informasi dari analis TF Securities, Ming-Chi Kuo, serta sumber industri di Korea Selatan, menyebut Apple rela menekan margin keuntungan. Tujuannya adalah mengamankan pasokan memori. Ini juga untuk menjaga harga produknya tetap stabil di tengah kenaikan biaya komponen dan memastikan produksi tetap berjalan. Dengan sumber daya finansial yang besar, Apple dinilai mampu menyerap lonjakan harga komponen tanpa langsung menaikkan harga produknya.

Efek dari strategi ini mulai terlihat di industri. Beberapa produsen chipset seperti MediaTek dan Qualcomm dilaporkan mengurangi produksi chip 4nm. Chip tersebut banyak digunakan pada smartphone kelas menengah dan entry-level. Pengurangan produksi ini diperkirakan setara dengan 15 hingga 20 juta unit chip. Ini berpotensi mempengaruhi pasokan smartphone di pasar global. Samsung juga mulai menyesuaikan harga produknya, khususnya pada varian dengan kapasitas memori besar.

Apple sebelumnya telah mengakui bahwa keterbatasan chip memori dan kapasitas produksi 3nm menjadi salah satu tantangan utama. Namun, perusahaan ini tampaknya memilih untuk menyerap tekanan tersebut. Langkah ini bahkan disebut dapat membantu Apple memperluas pangsa pasar, karena kompetitor kesulitan mendapatkan pasokan memori dengan harga yang kompetitif.

Ancaman Kelangkaan Ponsel Android Murah

Bagi produsen ponsel Android, terutama dari China, strategi bisnis mereka selalu bergantung pada margin keuntungan yang sangat tipis untuk menjaga harga jual tetap rendah. Namun, dengan melambungnya harga komponen seperti memori, margin tipis ini langsung lenyap.

Laporan industri menunjukkan bahwa beberapa model ponsel kelas menengah terbaru di China terpaksa dijual lebih mahal antara 100 hingga 600 yuan (kenaikan harga sekitar 20 persen). Ini dilakukan dibandingkan generasi sebelumnya demi menutupi biaya produksi. Bahkan, ponsel Android tua berusia 8 tahun yang rusak pun ditawarkan untuk dijual seharga 200 yuan (US$29) di Tiongkok. Ini karena chip memorinya diminati perusahaan daur ulang.

Laporan IDC (melalui Bloomberg) menyatakan bahwa pasar ponsel pintar global akan menyusut hampir 12,9% pada tahun 2026. Ini disebabkan oleh "kekurangan chip memori yang belum pernah terjadi sebelumnya". Penjualan ponsel kelas menengah hingga premium kemungkinan besar juga akan menurun. IDC telah menunjukkan bahwa pengapalan ponsel diperkirakan turun menjadi 1,1 miliar pada tahun 2026, dibandingkan dengan 1,26 miliar pada tahun 2025.

Tekanan ganda dari inflasi komponen dan konflik geopolitik ini mulai memakan korban. Produsen smartphone China berskala kecil, Meizu, dilaporkan telah menghentikan pengembangan perangkat baru. Mereka juga menarik seluruh ponselnya dari toko online. Lembaga riset IDC melabeli kondisi ini sebagai "structural reset", sebuah perubahan fundamental dalam struktur industri smartphone.

Recommended