Krisis Helium Ancam Produksi Chip Global di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pasokan helium dunia yang krusial bagi industri chip kini mengkhawatirkan. Kelangkaan ini akibat gangguan distribusi global dan status force majeure Qatar.

Kondisi pasokan helium global saat ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi industri pembuatan chip. Gas mulia ini memegang peranan krusial dalam berbagai tahapan produksi semikonduktor, mulai dari proses pendinginan, deteksi kebocoran, hingga memastikan manufaktur dengan presisi tinggi.

Situasi ini diperparah oleh kenaikan harga helium yang signifikan, bahkan melonjak hampir dua kali lipat sejak akhir Februari lalu, seperti dilaporkan Detik iNET yang mengutip Phone Arena pada Jumat (3/4/2026). Peningkatan harga ini mencerminkan tren serupa dengan komoditas lain seperti minyak.

Penyebab utama kelangkaan ini adalah gangguan pada jalur distribusi global. Mayoritas pasokan helium dunia harus melalui Selat Hormuz, yang saat ini beroperasi tidak pada kapasitas penuh akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Gangguan tersebut diperparah oleh keputusan Qatar, produsen helium terbesar kedua di dunia, untuk menyatakan status force majeure. Hal ini mengakibatkan hilangnya hampir sepertiga dari total pasokan helium global, menciptakan defisit yang besar di pasar.

Kelangkaan helium ini menimbulkan alarm bahaya bagi raksasa semikonduktor dunia, termasuk Samsung Electronics dan SK Hynix yang berlokasi di Korea Selatan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa cadangan helium di Korea Selatan diperkirakan hanya akan cukup hingga bulan Juni tahun ini. Oleh karena itu, kedua perusahaan berupaya keras mengamankan stok dengan mengalihkan pesanan impor dari Amerika Serikat.

Meskipun Menteri Perindustrian Korea Selatan, Kim Jung-kwan, menyatakan optimisme untuk paruh pertama tahun 2026, kondisi di lapangan sangat tegang. Bagi perusahaan sekelas Samsung dan SK Hynix, prioritas utama saat ini adalah mengamankan pasokan, bahkan di atas pertimbangan harga, mengingat cadangan mereka menipis dan hanya cukup untuk beberapa bulan.

Ancaman Penundaan Produksi Global

Dampak dari krisis helium mulai terasa di seluruh rantai pasok teknologi global. Pakar rantai pasok dari Semicon China memperingatkan bahwa kelangkaan ini merupakan ancaman nyata yang berpotensi memicu penundaan produksi. Beberapa perusahaan, seperti VAT dan Mycronic, bahkan sudah melaporkan adanya perpanjangan waktu tunggu untuk pengiriman produk mereka.

Jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut tanpa resolusi, industri chip akan dihadapkan pada pilihan sulit: memperlambat laju produksi atau bahkan menutup lini produksi secara keseluruhan. Skenario terburuk ini akan membawa dampak luas ke berbagai sektor, termasuk ketersediaan perangkat elektronik seperti smartphone, hingga industri otomotif yang sangat bergantung pada pasokan chip.

Di sisi lain, Rusia memiliki cadangan helium yang melimpah. Namun, sanksi Barat menghambat masuknya helium Rusia ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi ini dimanfaatkan oleh China yang secara signifikan meningkatkan impor helium dari Moskow, mencatat lonjakan hingga 60 persen pada tahun 2025.

Recommended