Kekurangan tenaga kerja keamanan IT berkualitas menjadi hambatan utama bagi organisasi di Asia Pasifik dalam mencegah serangan terhadap rantai pasokan digital pada Rabu (29/4/2026). Temuan ini dirilis melalui studi global terbaru oleh Kaspersky yang menyoroti kerentanan ekosistem bisnis di kawasan tersebut.
Dilansir dari Medcom, laporan tersebut mencatat sebanyak 42% responden global menempatkan keterbatasan staf ahli sebagai kendala keamanan utama. Masalah ini berdampak signifikan mengingat satu dari tiga organisasi dilaporkan telah menjadi korban serangan rantai pasokan dalam kurun waktu setahun terakhir.
Data kewilayahan menunjukkan ketimpangan krisis talenta yang cukup tajam di berbagai negara. Di Singapura, persentase organisasi yang kekurangan staf ahli berada di angka 34%, sementara Vietnam mencatatkan angka yang jauh lebih mengkhawatirkan sebesar 57%.
Selain kelangkaan pakar, tim keamanan siber di India, Vietnam, dan Singapura juga melaporkan beban kerja yang berlebihan. Di India, sebanyak 54% responden mengeluhkan tumpukan tugas operasional yang menghambat fokus pada ketahanan digital jangka panjang.
"Keamanan rantai pasokan harus menjadi tanggung jawab bersama yang ditegakkan di seluruh jaringan bisnis," ujar Sergey Soldatov, Kepala Pusat Operasi Keamanan di Kaspersky. Ia memperingatkan bahwa tim yang kewalahan membuat organisasi rentan terhadap ancaman yang bergerak diam diam melalui penyedia pihak ketiga.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya standar kontrak keamanan, di mana 30% hingga 61% pasar di Asia Pasifik beroperasi tanpa kewajiban standar keamanan IT bagi pihak ketiga. Secara global, hanya 15% perusahaan yang merasa langkah keamanan mereka saat ini sudah efektif, sementara di Indonesia angka kepercayaan tersebut hanya mencapai 14%.
Kaspersky menyarankan organisasi untuk mulai menggunakan layanan keamanan terkelola (MDR) dan melakukan audit ketat terhadap pemasok sebelum menjalin kerja sama. Standarisasi klausul keamanan informasi dalam setiap kontrak pihak ketiga juga direkomendasikan untuk memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem digital.