Literasi dan Numerasi Siswa Indonesia Belum Pulih Pascapandemi

Kemampuan literasi dan numerasi siswa di Indonesia belum pulih sepenuhnya pascapandemi COVID-19, terlihat dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025.

Kemampuan literasi dan numerasi siswa di Indonesia diakui belum pulih sepenuhnya pascapandemi COVID-19. Kondisi ini terungkap berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa capaian siswa masih tertinggal. Hal ini menunjukkan adanya 'learning loss' atau kehilangan pembelajaran yang signifikan selama masa pandemi.

"Kita belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang sangat fundamental terkait kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung," ujar Mu’ti, seperti dilansir dari Medcom.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam acara Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional di Jakarta pada Kamis, 9 April 2026. Acara ini melibatkan kerja sama dengan UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation.

Data serupa tidak hanya terlihat dari TKA, tetapi juga dari survei global lainnya, termasuk skor PISA. Hasil-hasil ini mengindikasikan bahwa masalah kemampuan dasar siswa tetap konsisten.

Menurut Mu’ti, Indonesia masih menghadapi 'learning loss' dan 'learning poverty', yang menjadi dampak serius pascapandemi yang belum teratasi sepenuhnya. Ia menegaskan, "Kita belum sepenuhnya pulih dari masalah capaian kemampuan literasi dan numerasi."

Meskipun demikian, pemerintah menunjukkan optimisme dalam upaya perbaikan. Berbagai program kini mulai dijalankan secara bertahap untuk mengatasi tantangan ini. Mu'ti menyebutkan bahwa tantangan yang ada bukan penghalang, melainkan momentum untuk berbuat lebih baik.

Salah satu solusi yang digencarkan adalah program kolaborasi lintas pihak dengan Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF. Fokus utama program ini diarahkan pada jenjang pendidikan dasar.

"Program ini menjadi sangat penting karena menyasar fondasi kemampuan anak," kata Mu'ti. Ia menekankan bahwa perbaikan harus dimulai sejak dini untuk mencegah dampak kelemahan ini berlanjut ke jenjang pendidikan berikutnya. Jika dasar kemampuan anak tidak kuat, dampaknya akan terus terasa pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Recommended