Peneliti keamanan siber menemukan kampanye spyware baru bernama Morpheus yang menyasar pengguna Android melalui skema pembaruan aplikasi palsu pada Rabu, 29 April 2026. Perangkat lunak berbahaya ini memiliki kemampuan untuk mencuri data pribadi dan membajak akun WhatsApp milik korban.
Morpheus dikategorikan sebagai spyware berbiaya rendah karena metode infeksinya yang sangat sederhana namun efektif. Dilansir dari Detik iNET, malware ini tidak mengandalkan celah keamanan canggih, melainkan memanipulasi target agar memasang aplikasi tersebut secara manual ke dalam perangkat mereka.
Metode ini berbeda dengan alat mata-mata kelas atas milik NSO Group atau Paragon Solutions yang menggunakan serangan zero-click tanpa interaksi pengguna. Peneliti mencatat bahwa serangan Morpheus sering kali diawali dengan manipulasi koneksi internet yang dilakukan pihak berwenang di Italia untuk menjebak target.
Operator seluler akan memutus akses internet pada ponsel target sebelum mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi instruksi pembaruan. Korban kemudian diminta menginstal berkas APK dari sumber tidak resmi dengan dalih untuk memulihkan konektivitas dan memperbarui sistem operasi ponsel.
Setelah terpasang, Morpheus menyalahgunakan fitur aksesibilitas Android untuk memantau aktivitas layar dan berinteraksi dengan aplikasi lain. Spyware ini dapat membaca seluruh informasi di perangkat serta menampilkan halaman muat ulang (reboot) palsu untuk mengelabui pengguna.
Serangan berlanjut dengan kemunculan halaman masuk (login) WhatsApp palsu yang meminta verifikasi data biometrik pengguna. Begitu data biometrik diberikan, pelaku mendapatkan akses penuh untuk menambahkan perangkat baru ke akun WhatsApp korban tanpa disadari.
Hingga saat ini, Morpheus diketahui tidak tersebar melalui Google Play Store dan hanya mengandalkan pemasangan manual dari pihak ketiga. Pakar keamanan menyarankan pengguna untuk tetap waspada terhadap SMS yang menawarkan pembaruan perangkat lunak setelah terjadi gangguan jaringan seluler tiba-tiba.