Kelalaian dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP) pemecatan karyawan mendatangkan kerugian besar bagi Opexus. Perusahaan teknologi penyedia perangkat lunak untuk pemerintah Amerika Serikat (AS) ini kecolongan setelah dua mantan pegawainya menghapus puluhan database penting, seperti dikutip dari Detik iNET.
Aksi fatal ini dilakukan oleh saudara kembar bernama Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter yang berusia 34 tahun. Keduanya diketahui memiliki rekam jejak kriminal penipuan siber pada tahun 2015, namun tetap lolos seleksi kerja di Opexus pada periode 2023 dan 2024.
Manajemen perusahaan baru mengetahui masa lalu kelam tersebut dan langsung menggelar rapat virtual melalui Microsoft Teams pada 18 Februari 2025. Dalam pertemuan tersebut, pihak Opexus memutuskan untuk memecat si kembar secara sepihak.
Rapat pemecatan itu resmi berakhir pada pukul 16.50. Hanya berselang lima menit, Sohaib menyadari bahwa akses VPN serta akun Windows miliknya telah diblokir oleh sistem keamanan perusahaan.
Namun, tim IT Opexus melakukan kesalahan fatal dengan lupa mencabut hak akses milik Muneeb. Celah keamanan ini langsung dimanfaatkan Muneeb untuk masuk ke dalam sistem dan melakukan perusakan berskala besar.Muneeb masuk ke database pemerintah AS yang dikelola Opexus pada pukul 16.56, kemudian langsung memblokir pengguna lain agar tidak bisa masuk ke sistem. Dua menit berselang, ia menghapus database milik Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) melalui perintah khusus.
Pada pukul 16.59, Muneeb bahkan memanfaatkan alat kecerdasan buatan (AI) untuk mencari cara menghapus log sistem dari server SQL. Langkah ini dilakukan demi menghilangkan jejak digital setelah database terhapus.
Puluhan Data Sensitif Lenyap
Dalam kurun waktu satu jam, Muneeb berhasil melenyapkan 96 database yang berisi informasi sensitif milik pemerintah AS. Tidak hanya itu, ia juga mengambil 1.805 dokumen komisi kesetaraan kerja (EEOC) serta data informasi pajak milik 450 orang.
Aksi sabotase ini pada akhirnya terbongkar karena kecerobohan mereka sendiri. Si kembar terus berkomunikasi dan menyusun rencana pemerasan terhadap klien perusahaan selama proses peretasan berlangsung.
Seluruh percakapan tersebut terekam secara otomatis karena mereka lupa mematikan fitur rekaman Microsoft Teams setelah rapat pemecatan usai. Rekaman ini menjadi bukti kuat yang disita oleh otoritas berwenang.
Proses Hukum dan Pengakuan Kelalaian
Pihak FBI melakukan penggerebekan di kediaman mereka tiga minggu setelah peristiwa tersebut terjadi. Muneeb menandatangani kesepakatan pembelaan pada April 2026, walau sempat berusaha membatalkannya di persidangan.
Sementara itu, Sohaib memilih menolak mengaku bersalah dalam kasus ini. Juri pengadilan akhirnya tetap menyatakan Sohaib bersalah atas dakwaan konspirasi penipuan komputer dan kepemilikan senjata api ilegal pada awal bulan ini.
Manajemen Opexus kini telah mengakui adanya kelalaian total dalam sistem pemeriksaan latar belakang karyawan. Perusahaan juga membenarkan bahwa prosedur pemutusan hubungan kerja yang mereka lakukan tidak berjalan sesuai standar keselamatan.