Menteri Pertanian Bongkar Modus Pupuk Palsu Rugikan Petani Rp3,3 Triliun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap modus pemalsuan pupuk tanpa unsur hara yang merugikan sektor pertanian hingga triliunan rupiah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membongkar praktik peredaran pupuk palsu yang mengakibatkan kerugian petani mencapai Rp3,3 triliun saat meninjau Gudang Bulog di Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (23/4/2026).

Setidaknya 27 orang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian dalam kasus yang menggunakan modus penjualan material tanah tanpa kandungan unsur hara esensial tersebut.

Dilansir dari Detik Finance, para pelaku mengedarkan produk yang diklaim sebagai pupuk namun tidak memiliki kandungan Nitrogen (N), Fosfat (P), maupun Kalium (K) yang dibutuhkan tanaman.

"Itu tanah dijual, dan itu merugikan petani Rp 3,3 triliun, sekarang sudah tersangka," kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Amran menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menindak tegas seluruh jaringan yang terlibat dalam pemalsuan ini karena dampaknya yang masif terhadap produktivitas pertanian nasional.

"Kemarin 27 orang, pupuk palsu tidak ada unsur haranya, di dalam N-nya tidak ada. Natriumnya, kaliumnya tidak ada, fosfat tidak ada, tiga-tiga tidak ada," ujar Amran saat menjelaskan rincian teknis temuan tersebut.

Di tengah pengungkapan kasus hukum ini, sektor pupuk nasional justru mencatatkan kinerja ekspor yang kuat ke pasar internasional.

Indonesia saat ini sedang merealisasikan pengiriman pupuk urea ke Australia dengan volume mencapai 250 ribu ton dari total target kontrak sebesar 1 juta ton.

Selain Australia, permintaan besar juga datang dari pemerintah India yang secara resmi mengajukan kebutuhan pasokan pupuk hingga 500 ribu ton kepada Indonesia.

Kementerian Pertanian kini tengah melakukan kalkulasi potensi perluasan pasar ekspor ke negara-negara lain seperti Brasil dan Filipina untuk memanfaatkan peningkatan daya saing produk domestik.

Recommended