Meta melaporkan kehilangan sekitar 20 juta pengguna aktif harian pada metrik Family Daily Active People dalam laporan pendapatan kuartal terbaru yang dirilis pada Minggu (3/5/2026). Penurunan jumlah pengguna di ekosistem Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger tersebut dipicu oleh kendala akses di beberapa negara.
Dilansir dari Detik iNET, manajemen Meta mengonfirmasi bahwa merosotnya angka pengguna disebabkan oleh pembatasan layanan internet di Iran. Selain itu, pembatasan akses aplikasi WhatsApp yang terjadi di Rusia turut memberikan dampak signifikan terhadap statistik pengguna global perusahaan.
Meskipun jumlah pengguna menyusut, pendapatan Meta justru tercatat melonjak 33 persen menjadi USD 56,3 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan finansial ini menjadi yang tercepat bagi perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg tersebut sejak tahun 2021.
Di sisi lain, Meta memutuskan untuk menaikkan proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi rentang USD 125 miliar hingga USD 145 miliar. Angka ini mengalami kenaikan sebesar USD 10 miliar atau sekitar Rp 162 triliun dari perkiraan anggaran yang ditetapkan sebelumnya.
Peningkatan anggaran tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan perangkat keras dan pembangunan kapasitas pusat data masa depan. Meta mengakui adanya kebutuhan komputasi yang lebih besar dari prediksi awal perusahaan untuk mendukung pengembangan infrastruktur mereka.
"Kami telah meremehkan jumlah permintaan komputasi di masa lalu," ujar Susan Li, Chief Financial Officer (CFO) Meta, saat menjelaskan koreksi arah kebijakan anggaran kepada para investor dalam earning call tersebut.
Kinerja negatif dialami oleh divisi Reality Labs yang berfokus pada pengembangan perangkat Virtual Reality dan wearable. Unit bisnis ini mencatatkan kerugian operasional sebesar USD 4,03 miliar atau sekitar Rp 65,5 triliun di tengah upaya restrukturisasi internal perusahaan.
Laporan keuangan yang menunjukkan penurunan pengguna dan kerugian besar di divisi VR memicu reaksi negatif di pasar modal. Harga saham Meta dilaporkan merosot lebih dari 7 persen sesaat setelah rilis data performa kuartalan tersebut dipublikasikan ke publik.