Meta PHK Delapan Ribu Karyawan demi Genjot Investasi AI

Meta melakukan PHK terhadap delapan ribu karyawan secara global sebagai bagian restrukturisasi untuk fokus pada pengembangan teknologi AI.

Perusahaan induk Facebook, Meta, memberhentikan sekitar delapan ribu karyawan sebagai bagian dari langkah restrukturisasi. Langkah efisiensi ini diambil seiring fokus raksasa media sosial tersebut dalam mempercepat pengembangan kecerdasan buatan atau AI.

Kebijakan pemangkasan hubungan kerja ini berdampak pada pekerja Meta di berbagai belahan dunia. Seperti dikutip dari Detik iNET, para pegawai yang terdampak di wilayah Asia telah menerima surat pemberitahuan resmi melalui email pada hari Rabu pukul 4 pagi waktu Singapura.

Terkait hak pekerja, laporan Business Insider menyebutkan bahwa karyawan Meta di Amerika Serikat akan mendapatkan paket pesangon berupa gaji pokok selama 16 minggu atau empat bulan. Jumlah tersebut ditambah dengan upah dua minggu untuk setiap tahun masa kerja pegawai.

Selain uang pesangon, para pekerja di Amerika Serikat juga diberikan fasilitas asuransi kesehatan selama 18 bulan untuk diri mereka dan keluarga. Jumlah fasilitas kesehatan ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan kebijakan perusahaan sebelumnya.

Sementara itu, pekerja yang terdampak di luar Amerika Serikat dipastikan menerima paket serupa. Kebijakan kompensasi tersebut akan disesuaikan dengan regulasi dan hukum yang berlaku di masing-masing negara tempat mereka bekerja.

Gelombang pengurangan tenaga kerja ini memperpanjang catatan efisiensi perusahaan. Sejak tahun 2022, Meta tercatat telah mengeliminasi lebih dari 30.000 posisi karyawan demi mendukung ambisi CEO Mark Zuckerberg.

Zuckerberg terus memacu efisiensi operasional di tengah komitmen besar perusahaan pada sektor kecerdasan buatan. Meta dikabarkan mengalokasikan anggaran belanja modal yang fantastis, yakni di atas USD 100 miliar pada tahun ini khusus untuk AI.

Pimpinan Meta tersebut juga mewajibkan para insinyur perangkat lunak menggunakan agen AI untuk membantu proses pengodean serta tugas operasional lainnya. Meta bahkan berencana melacak perangkat kerja karyawan demi menyempurnakan teknologi AI mereka.

Berdasarkan laporan Bloomberg, Zuckerberg juga menggunakan asisten AI pribadi yang diprogram khusus untuk menangani sejumlah tugas kepemimpinannya. Teknologi ini dimanfaatkan untuk mengumpulkan serta menghimpun masukan dari para staf.

Kebijakan otomatisasi ini mendapat sorotan tajam dari akademisi mengenai dampak psikologis jangka panjang bagi korporasi. Penggunaan teknologi pengganti manusia dinilai berpotensi menurunkan daya tarik perusahaan dalam jangka panjang.

"Perusahaan yang sangat mengandalkan otomatisasi seperti Meta berisiko kehilangan daya tariknya sebagai tempat kerja idaman, karena mulai terlihat jelas bahwa mereka akan menyingkirkan tenaga kerja manusia saat ada kesempatan," ujar Jan-Emmanuel De Neve, profesor ekonomi di Universitas Oxford, kepada Bloomberg.

Kebijakan ini dianggap memiliki dampak ganda bagi stabilitas internal korporasi global tersebut. Meskipun memotong pengeluaran saat ini, strategi tersebut dinilai memicu risiko lain bagi masa depan perusahaan.

"Langkah tersebut memang dapat menghasilkan penghematan biaya jangka pendek, tetapi berisiko mengancam potensi pertumbuhan jangka panjang dengan mengorbankan kesejahteraan dan rasa keterikatan karyawan," pungkasnya.

Recommended