Meta Berencana Pangkas 8.000 Karyawan Global pada Mei 2026

Meta akan melakukan PHK terhadap 8.000 karyawan pada 20 Mei 2026 sebagai dampak dari efisiensi penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Induk perusahaan Facebook, Meta, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sekitar 8.000 karyawan global pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah efisiensi ini diambil seiring dengan peralihan fokus perusahaan menuju integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Detik Finance yang mengutip Reuters pada Sabtu (18/4/2026), pengurangan tenaga kerja tersebut mencakup 10 persen dari total staf perusahaan. Per 31 Desember 2025, Meta tercatat mempekerjakan hampir 79.000 orang di seluruh dunia.

Spekulasi mengenai restrukturisasi ini sebenarnya telah bermunculan sejak bulan lalu di kalangan internal. Meskipun angka yang diumumkan saat ini mencapai 8.000 orang, isu sebelumnya sempat menyebutkan bahwa dampak PHK bisa menyentuh angka 20 persen dari total pekerja global.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, dikabarkan telah mengalokasikan anggaran hingga ratusan miliar dolar untuk mempercepat implementasi AI di lingkup internal. Upaya transformasi ini bertujuan untuk mengubah cara kerja operasional perusahaan melalui otomatisasi teknologi.

Langkah masif yang diambil Meta ini dinilai lebih agresif dibandingkan dengan perusahaan teknologi besar lainnya. Penggunaan AI secara internal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses bisnis meskipun harus mengorbankan ribuan posisi pekerjaan konvensional.

PHK tahun 2026 ini menjadi pemangkasan paling signifikan bagi Meta sejak masa restrukturisasi besar pada akhir 2022 hingga awal 2023. Pada periode yang disebut sebagai 'tahun efisiensi' tersebut, perusahaan telah merumahkan sebanyak 21.000 karyawan.

Secara finansial, saham Meta telah mengalami kenaikan sebesar 3,68 persen sejak awal tahun 2026. Perusahaan juga mencatatkan pendapatan lebih dari US$ 200 miliar dengan raihan laba mencapai US$ 60 miliar pada tahun lalu, di tengah pengeluaran besar untuk riset AI.

Fenomena pengurangan staf akibat adopsi kecerdasan buatan juga dialami oleh perusahaan teknologi raksasa lainnya. Amazon dilaporkan telah memangkas sekitar 30.000 karyawannya sebagai bagian dari strategi efisiensi serupa melalui penggunaan teknologi AI.

Recommended