Di tengah ketegangan konflik Iran-Israel, migrasi jutaan burung menjadi tantangan tersendiri bagi Angkatan Udara Israel (AU Israel). Fenomena alam ini berpotensi mengganggu operasi tempur pilot pesawat tempur.
Migrasi burung adalah peristiwa rutin yang terjadi dua kali setahun di wilayah tersebut, khususnya pada bulan Maret dan April. Area yang dikuasai Israel menjadi jalur penting bagi ratusan juta burung yang bermigrasi dari Afrika ke Eropa dan Asia Barat.
Menurut laporan JFeed, Kamis (12/3/2026), volume migrasi burung yang sangat besar dapat membahayakan operasi militer. Kawanan burung seperti bangau, pelikan, dan derek terbang di wilayah udara yang sama dengan jet tempur dan helikopter.
Kekhawatiran utama adalah risiko tabrakan udara berkecepatan tinggi yang dapat berakibat fatal bagi pilot dan merusak peralatan militer. Tabrakan dengan burung besar dapat merusak mesin pesawat atau kanopi kokpit. AU Israel telah menerapkan prosedur khusus untuk menghindari jalur migrasi selama musim transisi.
Selain bahaya fisik, migrasi burung juga mengacaukan sensor pertahanan udara. Burung-burung besar dapat muncul di layar radar dan disalahartikan sebagai drone musuh atau rudal. Terdapat kasus di mana tembakan anti-pesawat salah diarahkan ke kawanan burung.
Saat ini, kelompok pemantau yang bekerja sama dengan AU Israel memberikan peringatan real-time tentang pergerakan kawanan besar untuk membantu operator membedakan antara migrasi alami dan ancaman musuh.