Menjelang libur Lebaran, penyedia jasa penukaran uang baru semakin banyak ditemui. Mereka menawarkan pecahan uang kecil, seperti Rp 2.000 hingga Rp 20.000, di tepi jalan.
Fenomena ini terlihat di sekitar Stasiun Jakarta Kota, tepatnya di sudut Jl. Asemka. Di lokasi ini, ditemukan setidaknya 13 penyedia jasa tukar uang baru.
Salah seorang penyedia jasa mengungkapkan bahwa uang jutaan rupiah yang dibawanya berasal dari seorang 'bos', karena mereka sendiri kesulitan menukarkan uang dari bank konvensional.
"Beli kita juga. Iya beli, saya beli juga, makanya begitu ada tambahan. Kalau tukar dari bank masa kita kasih harga segitu," ucapnya.
Sosok 'bos' tersebut merupakan pemodal utama yang menyediakan uang baru bagi para penyedia jasa dengan sistem pinjaman. Uang yang dipinjamkan akan dikembalikan setelah seharian dijajakan.
"Ratusan juta, ratusan juta lah modalnya. Ada kita pinjaman dari bos, nanti kalau sudah pulang kita kembalikan lagi yang dipinjam. Sisa dapat berapa, itu yang kita bawa pulang," jelasnya.
Tarif penukaran yang dikenakan kepada pelanggan relatif tinggi karena penyedia jasa telah dikenakan tarif saat meminjam modal dari 'bos'.
"Dari bos-nya sudah kasih 12% (untuk pecahan Rp 5.000), jadi kita cuma ambil 3% saja. Semua kita cuma tambah 3% dari yang sudah dikasih bos. Jadi kita cuma dapat Rp 3.000 (untuk setiap penukaran kelipatan Rp 100.000)," kata penyedia jasa tukar uang itu.
Tarif jasa penukaran bervariasi, tergantung pada pecahan uang yang diinginkan. Mulai dari 10% untuk pecahan Rp 20.000 dan Rp 10.000, kemudian 15% untuk pecahan Rp 5.000, dan 25% untuk pecahan Rp 2.000.
Tarif tersebut berlaku untuk setiap kelipatan Rp 100.000. Diskon mungkin diberikan untuk penukaran dalam jumlah besar.
"Beda-beda, kita hitung per Rp 100.000. Ini (pecahan Rp 2.000) Rp 125.000, kalau yang ini (Rp 5.000) jadi Rp 115.000. Ini (pecahan Rp 10.000) sama ini (Rp 20.000) sama, jadi Rp 110.000," terangnya.