Tiga emiten yang terafiliasi dengan grup bisnis milik konglomerat Prajogo Pangestu resmi dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Index pada Rabu (13/5/2026). Langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) ini bertepatan dengan momentum hari ulang tahun sang pengusaha ke-82.
Ketiga perusahaan yang didepak tersebut meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, keputusan ini merupakan bagian dari evaluasi indeks berkala oleh MSCI.
BREN merupakan pemain utama di sektor energi baru terbarukan, sementara TPIA berfokus pada industri petrokimia. Adapun CUAN merupakan entitas bisnis yang mengelola aset pertambangan batu bara di bawah kendali Prajogo Pangestu.
Hasil rebalancing indeks ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026. Penyesuaian ini secara total mengakibatkan 18 emiten asal Indonesia harus keluar dari berbagai kategori indeks MSCI.
Data MSCI menunjukkan terdapat enam saham Indonesia yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Selain tiga perusahaan Grup Barito, terdapat nama PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Meskipun keluar dari kategori Global Standard, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terpantau menjadi satu-satunya emiten yang justru masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index. Sebaliknya, sebanyak 13 saham lainnya harus rela ditendang dari kategori Small Cap tersebut.
| No | Nama Perusahaan | Kode Saham |
|---|---|---|
| 1 | PT Amman Mineral Internasional Tbk | AMMN |
| 2 | PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN |
| 3 | PT Chandra Asri Pacific Tbk | TPIA |
| 4 | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA |
| 5 | PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk | CUAN |
| 6 | PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk | AMRT |
Penghapusan sejumlah emiten dari kategori Small Cap juga menyasar sektor tambang dan konsumsi, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Keputusan ini memengaruhi bobot portofolio investor institusi yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
Prajogo Pangestu sendiri saat ini tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia menurut data Forbes awal Mei 2026. Dengan kekayaan mencapai US$ 20,9 miliar atau setara Rp 362,32 triliun, ia mengendalikan kerajaan bisnis melalui induk usaha Barito Group.