Administrator NASA, Jared Isaacman, memiliki ambisi besar untuk mengembangkan badan antariksa tersebut, salah satunya membangun pangkalan astronaut di Bulan. Proyek ini diperkirakan menelan biaya USD 20 miliar atau sekitar Rp 338 triliun.
Pembangunan markas di Bulan oleh NASA direncanakan dalam tiga fase utama. Fase pertama akan berfokus pada pengembangan sistem komunikasi dan navigasi, serta pengiriman robot pendarat dan kendaraan untuk membantu astronaut menjelajahi permukaan Bulan.
Fase berikutnya mencakup operasi astronaut berulang di permukaan Bulan. Setelah itu, akan didirikan kehadiran manusia jangka panjang yang memungkinkan pengiriman infrastruktur yang lebih besar guna menciptakan markas yang lebih permanen.
Isaacman tidak memberikan perkiraan waktu selesainya proyek ambisius ini. Dia hanya menyatakan bahwa investasi akan dikucurkan selama beberapa tahun mendatang.
"Kami akan menginvestasikan sekitar USD 20 miliar selama tujuh tahun ke depan dan membangunnya melalui belasan misi," kata Isaacman, seperti dikutip dari The Verge, Kamis (26/3/2026).
Untuk mewujudkan habitat layak huni di permukaan Bulan, NASA harus mengatasi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi temperatur ekstrem, radiasi luar angkasa berbahaya, gravitasi rendah yang memengaruhi kepadatan tulang, serta ancaman meteorit mikro yang terus-menerus menghujam Bulan.
Menurut Isaacman, pembangunan markas di Bulan akan meningkatkan persaingan antara Amerika Serikat dan China di bidang antariksa. China juga berencana mendaratkan astronaut ke permukaan Bulan pada tahun 2030 dan mendirikan markas di sana.
Untuk merealisasikan proyek pangkalan di Bulan, NASA mengumumkan penundaan proyek Gateway yang semula direncanakan untuk mendirikan stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan.
Sebagai alternatif, NASA akan mengalihkan fokus pada infrastruktur yang memungkinkan operasi berkelanjutan di permukaan Bulan. Mereka akan menggunakan kembali beberapa peralatan yang sebelumnya direncanakan untuk proyek Gateway.
Selain pangkalan Bulan baru, NASA juga mengumumkan rencana peluncuran Space Reactor-1 Freedom, pesawat luar angkasa pertama yang menggunakan teknologi nuklir.
Wahana antariksa ini dijadwalkan terbang ke Mars pada akhir tahun 2028. Saat mencapai Mars, NASA menyatakan pesawat ini akan membawa muatan berupa helikopter otonom yang serupa dengan Ingenuity.