Pakar Ragu Iran Blokade Selat Hormuz dalam Jangka Panjang

Pakar meragukan kemampuan Iran memblokade Selat Hormuz dalam jangka panjang. Hal ini justru akan merugikan kepentingan negara tersebut.

Ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap potensi serangan AS dan Israel dinilai tidak akan bertahan lama. Langkah ini justru bisa merugikan Iran sendiri.

Sara Vakhshouri, pakar energi dari SVB Energy International, berpendapat bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang tidak menguntungkan Iran. Pasalnya, Iran bergantung pada impor bahan pangan dan ekspor ke Cina serta India.

"Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri," ujar Sara kepada Bloomberg TV dikutip dari Deutsche Welle (DW), Selasa (10/3/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar 20% minyak mentah dunia diangkut melalui jalur ini, dengan lebih dari 80% pengiriman menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang, menurut Badan Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat.

Penutupan Selat Hormuz akan berdampak luas. Menurut media Iran International, selain minyak, pengiriman bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG) juga akan terhambat. Sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% LNG global melewati jalur ini.

Beberapa negara seperti AS, negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada memiliki cadangan strategis untuk menghadapi gangguan pasokan sementara.

Blokade tersebut tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke Barat, tetapi juga ekspor Iran ke China dan India, memperburuk krisis ekonomi Iran.

Iran telah menghadapi sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terhadap ekspor. Sanksi tambahan dari PBB diberlakukan antara 2006 hingga 2015 terkait program nuklir Iran.

Sanksi sempat dilonggarkan antara 2016 dan 2018 setelah Iran ikut dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan sanksi ketat setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Sanksi Barat membuka peluang bagi Iran untuk tetap berdagang karena tidak ada sanksi bagi negara yang tidak mematuhi pembatasan tersebut.

Kpler mencatat, lebih dari 80% ekspor Iran dikirim ke China. Saat ini, China menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia.

Sanksi Barat terhadap ketiga negara itu memaksa mereka menjual minyak dengan harga diskon. China diuntungkan oleh harga yang lebih murah, sementara Iran harus menerima pendapatan ekspor yang lebih rendah.

Penggunaan armada kapal bayangan, perantara, dan rute alternatif akibat sanksi juga meningkatkan biaya transportasi.

Nikolay Kozhanov dari Qatar University menyatakan, "Saat ini, China merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi."

Diversifikasi Impor Minyak China

Perkembangan ekonomi China menjadi lebih penting bagi Iran dibandingkan sanksi baru dari PBB. Sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela juga memungkinkan China mendiversifikasi sumber impor minyaknya.

China menjauh dari pemasok yang memiliki hubungan erat dengan AS, seperti negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang banyak terintegrasi dalam sistem keamanan dan keuangan yang dipimpin AS.

Menurut Kozhanov, sanksi telah melemahkan Iran terlepas dari ketahanan ekonominya. Hal ini karena sanksi membatasi akses Iran terhadap teknologi baru, pembiayaan internasional, dan investasi, mengurangi produksi minyak Iran dalam jangka panjang.

Kozhanov menambahkan, "Iran kemungkinan tetap hadir di pasar minyak global, tetapi sebagai pemasok yang secara struktural dilemahkan dan menjual dengan diskon besar, secara bertahap mempertahankan volume perdagangan yang stabil dengan pendapatan per unit yang lebih rendah."

Recommended