Nasyiatul Aisyiyah (NA) adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di kalangan perempuan muda. Sejak awal abad ke-20, NA telah menorehkan rekam jejak perjuangan yang panjang.
Organisasi ini telah berkontribusi dalam berbagai isu strategis, termasuk pemberdayaan perempuan, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting di Indonesia. Selama lebih dari sembilan dekade, NA terus memberikan kontribusi nyata bagi perempuan.
Nasyiatul Aisyiyah memiliki akar sejarah yang panjang, tidak terpisahkan dari semangat Muhammadiyah dalam membangun kader-kader penerus yang tangguh. Kondisi masyarakat yang masih terbelenggu budaya patriarki menjadi tantangan tersendiri.
Gagasan Soemodirdjo, kepala sekolah Standaard School Muhammadiyah Suronatan, menjadi cikal bakal berdirinya NA. Ia meyakini bahwa kemajuan perjuangan Muhammadiyah hanya dapat terwujud apabila mutu ilmu pengetahuan para murid terus ditingkatkan, baik dalam bidang spiritual, intelektual, maupun jasmani.
Pada tahun 1919, Soemodirdjo bersama Raden Hadjid mendirikan perkumpulan bernama Siswa Praja (SP). Tujuan pendirian SP adalah menanamkan rasa persatuan, memperbaiki akhlak, dan memperdalam pemahaman agama di kalangan pelajar Muhammadiyah.
Setelah lima bulan berjalan, keanggotaan SP dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, sehingga lahirlah Siswa Praja Wanita (SPW). Kegiatan SPW dipusatkan di rumah Haji Irsyad, Kauman, yang kini dikenal sebagai Musala Aisyiyah Kauman.
Kehadiran SPW menjadi terobosan emansipatif di tengah masyarakat yang menganggap perempuan hanya layak berkutat pada urusan sumur, dapur, dan kasur. Para anggotanya aktif menggelar pengajian, berpidato, melaksanakan salat berjamaah subuh, hingga memperingati hari-hari besar Islam.
Kegiatan SPW berkembang semakin tersegmentasi sesuai usia peserta didik. Mulai dari Thalabus Sa'adah (usia di atas 15 tahun), Tajmilul Akhlak (usia 10 hingga 15 tahun), Dirasatul Bannat (anak-anak kecil), hingga Jam'iatul Athfal (usia 7 hingga 10 tahun).
Pada tahun 1923, SPW mulai diintegrasikan menjadi urusan Aisyiyah. Setahun kemudian, pada 1924, berhasil mendirikan taman kanak-kanak Bustanul Athfal. SPW juga menerbitkan buku nyanyian berbahasa Jawa bertajuk Pujian Siswa Praja.
Pada tahun 1926, kegiatan SPW telah menjangkau cabang-cabang di luar Yogyakarta, bahkan di luar Pulau Jawa. Kongres Muhammadiyah ke-18 tahun 1929 memutuskan bahwa semua cabang Muhammadiyah wajib mendirikan SP Wanita dengan sebutan Aisyiyah Urusan Siswa Praja.
Penetapan Tahun Berdiri Nasyiatul Aisyiyah
Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta pada tahun 1931 memutuskan bahwa seluruh nama gerakan harus menggunakan bahasa Arab atau bahasa Indonesia, seiring pesatnya pertumbuhan Muhammadiyah yang telah memiliki lebih dari 400 cabang.
Nama SPW resmi berganti menjadi Nasyiatul Aisyiyah (NA) melalui keputusan tertanggal 16 Mei 1931 atau bertepatan dengan 28 Zulhijah 1345 Hijriah.
Tanggal 16 Mei 1931 diabadikan sebagai hari lahir resmi Nasyiatul Aisyiyah. Sejak saat itu, NA terus tumbuh dengan identitas yang semakin kuat dan mandiri di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah.
NA menyelenggarakan kegiatan yang semakin berani dan agresif pada tahun 1935, seperti mengadakan salat Jumat bersama, tablig ke berbagai daerah, dan kursus administrasi. Kegiatan-kegiatan tersebut pada masa itu dianggap tidak lazim dilakukan oleh kaum perempuan.
Simbol Padi resmi ditetapkan sebagai lambang NA pada Kongres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938, sekaligus dijadikan lagu mars organisasi. Identitas visual dan musikal ini memperkuat karakter NA sebagai gerakan perempuan muda yang berakar pada nilai-nilai Islam dan semangat kebangsaan.
Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan diselenggarakannya Taman Aisyiyah sebagai wadah pengembangan potensi, minat, dan bakat para anggota. Lagu-lagu karya komponis Muhammadiyah yang terhimpun dalam kegiatan ini kemudian dibukukan dengan nama Kumandang Nasyi'ah.
Kini, lebih dari sembilan dekade sejak kelahirannya, NA terus berkontribusi nyata dalam isu inklusi sosial dan gender, kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, hingga pemberdayaan ekonomi perempuan. Semangat Soemodirdjo terus menyala di seluruh negeri.