Negara Teluk Borong Senjata Laser China Demi Tangkal Serangan Drone

Negara-negara Teluk seperti UEA dan Arab Saudi mulai memborong senjata laser buatan China untuk memperkuat pertahanan udara dari ancaman drone.

Sistem senjata laser buatan China kini mulai terdeteksi berada di bandara Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Perangkat militer yang dipasang pada kendaraan tersebut diyakini memiliki kemampuan khusus untuk melumpuhkan drone pencuri informasi maupun penyerang.

Langkah UEA dalam memperkuat wilayah udaranya tidak hanya mengandalkan satu produsen. Negara tersebut juga menggunakan sistem laser Iron Beam yang dipinjamkan oleh Israel, sekaligus berupaya membeli persenjataan serupa dari Amerika Serikat dan perusahaan Eropa.

Dikutip dari Detik iNET, tren perburuan senjata masa depan ini juga menular ke negara Teluk lainnya. Oman diketahui telah membeli senjata laser dari China, sementara Qatar melirik sistem pertahanan udara Steel Dome milik Turki yang terintegrasi dengan teknologi laser.

Di sisi lain, militer Arab Saudi dikabarkan telah menguji sistem persenjataan tersebut. Beberapa pengamat pertahanan menyebutkan bahwa pihak Saudi telah mendatangkan delapan unit sistem laser Silent Hunter buatan China.

Kehadiran senjata laser kini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Jared Keller, seorang pengamat militer yang mengelola Laser Wars, mencatat bahwa eskalasi konflik yang melibatkan Iran telah memicu percepatan pengembangan senjata laser global pada April dan Mei dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Senjata yang masuk dalam kelompok Senjata Energi Terarah atau Direct Energy Weapons (DEW) ini bekerja dengan memancarkan sinar berenergi tinggi untuk merusak atau membutakan target. Terdapat pula varian gelombang mikro berdaya tinggi yang memicu malfungsi sistem elektronik sasaran.

Faktor ekonomi menjadi alasan utama di balik populernya teknologi ini. Maraknya penggunaan drone murah dalam peperangan konvensional membuat penggunaan rudal pertahanan yang mahal menjadi tidak efisien lagi dari segi biaya.

"Maraknya peperangan drone memperumit perhitungan ekonomi dalam peperangan konvensional," jelas Keller.

Produsen senjata mengklaim bahwa biaya operasional teknologi ini sangat murah, yakni hanya berkisar antara USD 3 hingga USD 5 untuk setiap kali tembakan diluncurkan.

"Negara mana pun yang menghadapi ancaman mendesak dari tetangga regionalnya pasti ingin mempercepat penggunaan sistem ini," kata Keller.

Kelemahan Operasional di Wilayah Gersang

Meskipun efisien, teknologi ini bukanlah solusi mutlak tanpa celah. Senjata laser dinilai akan berfungsi optimal jika dipadukan dengan sistem pertahanan udara berlapis yang memiliki cakupan lebih luas.

Keterbatasan utamanya terletak pada jarak jangkau dan arah tembakan yang harus lurus. Sistem Iron Beam milik Israel, misalnya, hanya mampu menjangkau jarak 10 kilometer dan membutuhkan waktu diam beberapa saat pada target sebelum mampu menghancurkannya.

Faktor alam di Timur Tengah juga memicu kendala teknis yang cukup serius. Pancaran sinar dapat terganggu oleh kelembapan, badai pasir, debu, hujan, hingga uap air laut, sementara suhu ekstrem berisiko merusak komponen sensitif dan membutuhkan energi pendingin yang sangat besar.

Efektivitas sistem ini juga masih diuji, mengingat Iron Beam belum dioperasikan secara penuh dalam konflik. Militer Israel menyatakan masih membutuhkan setidaknya 14 baterai tambahan agar sistem tersebut dapat bekerja secara efektif menghalau serangan udara.

Mengenai keputusan negara-negara Teluk yang membeli persenjataan dari berbagai negara produsen, hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan militer pada pihak barat.

"Ketergantungan berlebihan pada AS tak membuahkan hasil. Dalam jangka menengah hingga panjang, negara Teluk harus menemukan cara untuk meningkatkan kemandirian," cetus Andreas Krieg, dosen School of Security Studies di King's College London.

Recommended