Laju ekspansi kota-kota besar yang pesat mendorong negara-negara gurun di wilayah Teluk untuk mengimpor jutaan pohon setiap tahunnya. Strategi iklim ini bertujuan mendinginkan wilayah yang semakin panas akibat urbanisasi, terutama di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Pemandangan ini menjadi umum di pinggiran kota Riyadh dan kota-kota besar UEA seperti Dubai dan Abu Dhabi. Truk-truk besar membawa pohon-pohon muda untuk ditanam sebagai bagian dari proyek "kota hijau". Di Riyadh, barisan pepohonan muda yang ditanam di sepanjang jalan baru menggantikan pemandangan pasir panas.
Di Dubai, bibit pohon yang diimpor dari Afrika dan Eropa ditempatkan di bawah kain pelindung, siap menjadi bagian dari jalur hijau dan taman kota yang sedang dibangun. Langkah ini menunjukkan upaya negara-negara gurun untuk mengatasi fenomena panas kota ekstrem setelah pembangunan megah dengan gedung pencakar langit, jalan raya luas, dan perumahan baru.
Strategi ini lebih dari sekadar estetika. Kota-kota besar tanpa pepohonan mengalami fenomena 'pulau panas perkotaan', di mana suhu permukaan kota bisa 5-10 derajat Celcius lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Penanaman pohon di jalan dan taman dapat mengurangi suhu permukaan dan memberikan naungan bagi warga.
Upaya penghijauan ini merupakan bagian dari inisiatif iklim dan citra global. Arab Saudi telah meluncurkan Saudi Green Initiative, yang bertujuan menanam miliaran pohon di seluruh negeri dalam beberapa dekade mendatang, termasuk proyek King Salman Park yang direncanakan menjadi salah satu taman kota terbesar di dunia. Pohon-pohon ini tidak hanya memperbaiki kualitas udara, tetapi juga menjadi cara negara tersebut menunjukkan komitmennya terhadap solusi perubahan iklim global.
Di UEA, kegiatan serupa terlihat di nurseri besar, tempat bibit impor dari berbagai negara dipilih berdasarkan kemampuan mereka bertahan di bawah terik matahari dan tanah yang keras. Seorang manajer lanskap di Dubai menggambarkan tugasnya sebagai mengatur 'lalu lintas pohon', mengarahkan pengiriman 'muatan hidup' tersebut.
Selain mendinginkan kota, pohon-pohon ini menjadi simbol komitmen terhadap isu iklim. Momen ini sejalan dengan peran UEA sebagai tuan rumah COP28, sementara di Arab Saudi, taman hijau dan lembah subur muncul di tengah proyek futuristik seperti NEOM dan The Line, memberikan kontras visual dengan gambaran gurun.
Menurut pakar iklim dan perencanaan kota, pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma, dari pembangunan beton tanpa naungan menjadi kota yang terencana dengan ruang hijau sebagai elemen penting untuk kenyamanan dan kesehatan warga. Pohon bukan lagi sekadar elemen lanskap, tetapi menjadi bagian integral dari ketahanan iklim kota masa depan.