Warganet Indonesia dihebohkan oleh temuan seekor serangga yang diklaim tidak mati meskipun sudah diinjak-injak. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Detik iNET, fenomena ini mendadak dikaitkan dengan narasi konspirasi yang melibatkan miliarder teknologi, Bill Gates.
Kejadian ini bermula ketika seorang pengguna media sosial menceritakan pengalamannya setelah pulang mendaki gunung. Ia merasa ada serangga yang menempel di beberapa bagian tubuhnya saat sedang menggunakan losion.
"kelihatannya hisap darah aku. Ku injak-injak pites juga ga mati-mati, takut banget," tulis sebuah akun.
Unggahan tersebut memicu spekulasi dari warganet lain yang mengaitkannya dengan isu modifikasi genetik. Serangga itu dituduh sengaja disebarkan oleh pihak tertentu agar masyarakat mengalami alergi daging merah, sehingga produk daging artifisial menjadi laku di pasaran.
Konspirasi mengenai kutu yang melibatkan pendiri Microsoft tersebut sebenarnya telah dibantah sejak tiga tahun lalu. Laporan media The Independent pada Jumat (22/5/2026) menyebutkan bahwa narasi serupa pernah beredar luas di media sosial.
Sebelumnya, beredar klaim bahwa Gates Foundation mendanai pembiakan kutu yang memicu sindrom alpha-gal, sebuah reaksi alergi parah terhadap daging merah. Tujuannya disebut-sebut untuk mengalihkan konsumsi masyarakat ke produk daging nabati yang ia investasikan.
Faktanya, para penyebar informasi tersebut tidak pernah menyertakan bukti valid. Sindrom alpha-gal berkaitan dengan kutu Lone Star, yang sangat berbeda dari objek penelitian modifikasi genetik kutu sapi di Inggris yang sebagian dananya disokong oleh Gates.
Tudingan terhadap Produsen Vaksin Pfizer
Selain Bill Gates, produsen vaksin Covid-19, Pfizer, juga menjadi sasaran hoaks serupa di media sosial sejak tahun 2023. Beberapa pengguna menuduh perusahaan tersebut sengaja menyebarkan kutu demi meningkatkan permintaan produk medis terbaru mereka.
"Tahukah kalian bahwa Pfizer mulai mengerjakan vaksin kutu pada tahun 2021 dan akan dirilis pada tahun 2027? Waktu yang sangat tepat, ya?" tulis seorang netizen.
Pfizer sendiri telah mengumumkan pengembangan tersebut sejak tahun 2020. Mereka berencana mengajukan izin regulasi setelah uji coba menunjukkan tingkat efektivitas di atas 70% dalam mencegah penyakit Lyme pada Maret lalu.
Lembaga nirlaba Public Health Communications Collaborative menegaskan bahwa tuduhan yang beredar di media sosial sama sekali tidak memiliki basis bukti ilmiah.
"Tidak ada bukti untuk mendukung klaim ini," kata Public Health Communications Collaborative.
Organisasi yang dibentuk di tengah pandemi Covid-19 ini menambahkan bahwa narasi keliru lainnya menuduh vaksin penyakit Lyme tersebut berbasis mRNA dan mengulang mitos keamanan medis yang tidak benar. Hingga kini, pihak Gates Foundation maupun Pfizer belum memberikan tanggapan resmi mengenai isu yang kembali bergulir tersebut.