Pola makan anak-anak dan remaja di seluruh dunia menjadi perhatian serius. Lonjakan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan produk ultra-proses terjadi secara signifikan.
Ironisnya, asupan makanan bergizi seperti buah, sayur, dan sumber protein masih rendah di kalangan anak-anak dan remaja.
UNICEF melaporkan perubahan besar dalam lanskap gizi global melalui laporan terbaru berjudul "Feeding Profit: How food environments are failing children".
Kelebihan berat badan dan obesitas pada usia muda mengalami lonjakan. Dunia tidak hanya menghadapi masalah kekurangan gizi, tetapi juga masalah kelebihan berat badan.
Data UNICEF menunjukkan, secara global, sekitar 1 dari 5 anak usia 5-19 tahun mengalami kelebihan berat badan. Sementara, 1 dari 20 anak di bawah usia lima tahun mengalami kondisi serupa.
Dalam dua dekade terakhir, terjadi peningkatan lebih dari dua kali lipat pada jumlah anak usia sekolah dan remaja yang mengalami kelebihan berat badan. Pada tahun 2000, terdapat sekitar 194 juta anak. Pada 2025, angka ini diperkirakan mencapai 391 juta anak di seluruh dunia.
Untuk pertama kalinya, jumlah anak yang mengalami obesitas lebih banyak daripada anak yang kekurangan berat badan pada kelompok usia 5-19 tahun. Tingkat obesitas diperkirakan mencapai 9,4 persen pada tahun 2025, sedikit lebih tinggi daripada kekurangan berat badan (9,2 persen).
Pergeseran ini menandai perubahan besar dalam krisis gizi global. Dunia lebih banyak menyoroti anak yang kekurangan gizi sebelumnya, namun kini masalah kelebihan berat badan juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi muda.
Peningkatan Konsumsi Gula dan Makanan Olahan
Tren peningkatan obesitas disebabkan oleh pola makan anak yang semakin tidak sehat. Data global menunjukkan bahwa 60 persen remaja mengonsumsi makanan atau minuman manis setidaknya sekali sehari.
Selain itu, sekitar 32 persen remaja secara rutin mengonsumsi minuman bersoda, dan 25 persen mengonsumsi makanan olahan asin lebih dari sekali sehari.
Banyak anak tidak mendapatkan asupan makanan bergizi yang cukup sejak usia dini. UNICEF mencatat bahwa banyak anak usia 6 hingga 23 bulan tidak mengonsumsi makanan penting seperti buah, sayur, telur, atau sumber protein hewani.
Pengaruh Iklan Junk Food
Industri makanan ultra-proses memiliki peran besar dalam membentuk lingkungan pangan anak. Makanan cepat saji, camilan tinggi garam, dan minuman manis semakin mudah diakses dan dipasarkan secara agresif kepada anak-anak dan remaja.
Survei global menunjukkan bahwa tiga dari empat anak dan remaja terpapar iklan makanan tidak sehat setidaknya sekali dalam seminggu. Iklan-iklan ini muncul di televisi, media digital, permainan daring, dan media sosial.
Paparan iklan yang masif ini memengaruhi preferensi makanan anak sejak dini, mendorong mereka untuk mengonsumsi produk tinggi gula, garam, serta lemak.
Risiko Penyakit Kronis di Masa Depan
UNICEF memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, konsekuensi kesehatan jangka panjang bisa sangat besar. Anak yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas berisiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes hingga penyakit jantung di masa depan.
Peningkatan obesitas dapat memicu beban ekonomi dan sistem kesehatan yang lebih besar di berbagai negara. UNICEF menyatakan bahwa dunia kini menghadapi bentuk baru malnutrisi, di mana kekurangan gizi dan kelebihan berat badan terjadi secara bersamaan dalam populasi anak.
Tanpa perubahan besar dalam sistem pangan global, termasuk regulasi pemasaran makanan kepada anak dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi, generasi muda berisiko menghadapi krisis kesehatan yang semakin kompleks di masa depan.