Konsumsi Konten Dangkal Picu Brain Rot dan Turunkan Fokus Otak

Fenomena brain rot akibat terlalu sering menonton konten pendek yang absurd dapat memicu lonjakan dopamin dan menurunkan kemampuan konsentrasi.

Kebiasaan menyaksikan tayangan pendek yang absurd dan acak kini mulai mengkhawatirkan bagi kesehatan organ berpikir. Kondisi yang dikenal sebagai brain rot ini muncul akibat seseorang terus-menerus mengonsumsi konten digital dangkal hingga memengaruhi fokus, cara berpikir, serta kemampuan berkonsentrasi.

Seperti dilansir dari Medcom, istilah brain rot secara harfiah memiliki arti pembusukan otak. Meskipun bukan merupakan penyakit medis resmi, fenomena tersebut nyata terjadi dan telah menarik perhatian dalam dunia ilmiah.

Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Agustino Zulys, menjelaskan bahwa fenomena ini merujuk pada kondisi saat otak terlalu sering terpapar materi cepat dan dangkal. Hal tersebut perlahan memengaruhi kemampuan fokus, konsentrasi, dan pola pikir seseorang.

Tayangan pemicu kondisi ini umumnya berupa video singkat yang absurd, acak, cepat, dan kerap tidak masuk akal. Jenis hiburan ini kemudian berkembang menjadi genre tersendiri yang dikonsumsi masyarakat setiap hari tanpa disadari.

Di balik kebiasaan menggulirkan layar tanpa henti, terdapat senyawa kimia organ berpikir yang bekerja secara terus-menerus. Di dalam otak terdapat molekul bahagia bernama dopamin yang berperan dalam sistem reward atau penghargaan, yaitu sistem yang aktif ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Materi digital yang serba cepat dan penuh kejutan memicu lonjakan dopamin secara berulang. Akibatnya, organ berpikir terus terdorong untuk mencari stimulasi berikutnya.

"Kalau kita sering ketawa dengan hiburan receh, hati-hati, itu brain rot. Artikel ilmiah menunjukkan brain rot dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir karena terlalu banyak konsumsi konten receh, cepat, dan dangkal," kata Zulys dalam akun Instagram @prof.zulys dikutip Jumat, 22 Mei 2026.

Dampaknya, seseorang dapat terus berselancar di media sosial tanpa sadar karena saraf telah terbiasa mengejar sensasi hiburan instan. Padahal, organ berpikir manusia pada dasarnya dirancang untuk berpikir mendalam dan mempertahankan fokus dalam jangka waktu tertentu.

Namun, fenomena ini bekerja dengan cara sebaliknya, yaitu membanjiri saraf dengan terlalu banyak informasi dalam waktu singkat hingga mengganggu kemampuan dasar tersebut. Rentang perhatian manusia kemudian menjadi semakin pendek dan memicu kesulitan untuk bertahan menonton atau membaca sesuatu yang lebih panjang serta membutuhkan konsentrasi.

"Terbentuk kecanduan digital, apa yang terjadi di otak? Otak kita sebenarnya dirancang untuk fokus berpikir mendalam. Tapi brain rot melakukan sebaliknya terlalu banyak informasi menyebabkan plenger, rentang fokus perhatian rusak tidak tahan nonton video lebih dari 1 menit," beker Zulys.

Dampak Kognitif dan Kerentanan pada Remaja

Efek negatif dari kebiasaan ini juga merambat ke berbagai fungsi kognitif lainnya. Daya ingat dapat melemah karena informasi tidak sempat tersimpan dalam memori jangka panjang.

Kemampuan mengambil keputusan ikut terganggu sehingga seseorang cenderung menjadi lebih reaktif dan kurang reflektif dalam menyikapi sesuatu.

"Konten brain rot itu super cepat penuh kejutan. Jadi timbul lonjakan dopamin terus-menerus. Hasilnya, otak memberi sinyal, kalau mau senang, scroll lagi," jelas dia.

Kelompok anak-anak dan remaja menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena organ berpikir mereka masih berada dalam tahap perkembangan. Pada kelompok usia ini, efeknya dapat memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang, mulai dari menurunnya kemampuan fokus belajar, mudah merasa bosan, meningkatnya ketergantungan pada gawai, hingga munculnya gangguan emosi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan berpotensi mengganggu perkembangan kecerdasan dan meningkatkan risiko depresi. Namun, fenomena ini terjadi bukan semata-mata karena anak-anak lemah dalam mengontrol diri.

Platform digital memang dirancang dengan algoritma khusus yang membuat pengguna terus menonton selama mungkin.

"Kenapa anak sekarang suka brain rot? Jawabannya bukan karena mereka lemah, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu. Ada algoritma, platform yang dipakai tahu apa yang bikin kamu nonton lama," beber dia.

Pada dasarnya, tidak semua hiburan bersifat buruk karena ada batas penting antara hiburan yang menyehatkan dan hiburan yang justru merusak kemampuan berpikir. Tertawa karena tayangan yang menghibur merupakan hal wajar dan sehat.

Namun, ketika hiburan membuat seseorang berhenti berpikir kritis dan terus mencari stimulasi instan tanpa kendali, di situlah fenomena ini mulai bekerja secara perlahan.

"Kalau hiburan membuat kita tertawa, itu sehat. Tapi kalau hiburan membuat kita berhenti berpikir, itu plenger. Itu cara pelan mematikan otak kita," ujar dia.

Recommended