Pakar IPB Jelaskan Proses Difraksi Cahaya pada Fenomena Awan Pelangi

Dosen IPB menjelaskan fenomena iridescent clouds atau awan pelangi terjadi karena difraksi cahaya matahari oleh partikel kecil di awan tipis.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena awan pelangi atau iridescent clouds yang viral di media sosial pada Rabu, 13 Mei 2026. Peristiwa optika atmosfer ini terjadi akibat interaksi alami antara cahaya matahari dengan partikel kecil di dalam awan.

Dilansir dari Medcom, fenomena ini muncul ketika sinar matahari mengalami difraksi oleh tetesan air atau kristal es berukuran 0,001 hingga 0,01 mm. Cahaya polikromatik dari matahari kemudian terurai menjadi spektrum warna seperti merah, hijau, dan biru pada sudut tertentu di pinggiran awan.

Sonni menjelaskan bahwa karakteristik awan yang tipis menjadi syarat mutlak terjadinya pemandangan indah tersebut. Jika awan terlalu tebal, cahaya matahari akan tertutup sehingga efek warna tidak akan muncul di langit.

"Karena cahaya matahari merupakan radiasi polikromatik, maka cahaya yang mengalami difraksi dengan panjang gelombang yang berbeda akan saling menguatkan atau saling melemahkan pada sudut tertentu, sehingga muncul warna merah, hijau, biru, ungu yang selalu muncul di pinggiran awan," papar Sonni Setiawan, Dosen IPB University.

Beberapa jenis awan yang berpotensi menghasilkan iridescence adalah altokumulus dan sirrokumulus pada ketinggian 5-10 kilometer. Selain itu, awan lentikular di atas gunung dan awan polaris stratosfer di kawasan kutub juga dapat memicu fenomena serupa dengan gradasi warna yang lebih tajam.

Terdapat perbedaan mendasar antara awan pelangi dengan pelangi biasa yang berbentuk busur. Pelangi terbentuk melalui proses pembiasan atau refraksi cahaya pada tetesan hujan yang besar, sedangkan awan pelangi murni hasil dari difraksi pada partikel yang jauh lebih kecil.

Pada iridescent clouds, setiap droplet bertindak sebagai celah tunggal yang menyebarkan cahaya. Hal ini menyebabkan warna biru muncul lebih dekat ke sumber cahaya dan warna merah tampak lebih jauh karena perbedaan sudut difraksi masing-masing panjang gelombang.

Keseragaman ukuran partikel di dalam awan sangat menentukan kualitas warna yang dihasilkan. Jika ukuran tetesan tidak seragam, pola difraksi akan saling menghapus dan hanya menyisakan warna putih buram tanpa gradasi pelangi yang jelas.

Fenomena ini biasanya ditemukan pada awan altokumulus yang baru terbentuk sebelum tetesannya bergabung menjadi lebih besar. Masyarakat di berbagai wilayah dapat menyaksikan fenomena ini kapan saja selama kondisi atmosfer dan ketebalan awan mendukung proses difraksi tersebut.

Recommended