PT Timah (Persero) Tbk bersama Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dijadwalkan memulai pembangunan fasilitas riset dan industri logam tanah jarang (rare earth element/REE) di Bangka Belitung pada Rabu, 20 Mei 2026. Proyek strategis ini merupakan kolaborasi antara emiten pertambangan timah dengan BUMN di bawah naungan Danantara.
Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto menjelaskan bahwa persiapan pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking terus dilakukan secara intensif agar sesuai dengan jadwal. Dilansir dari Detik Finance, fasilitas ini menjadi langkah besar Indonesia dalam mengolah komoditas mineral strategis secara mandiri.
"Kita kejar, di tanggal 20, minggu depan. Tapi memang tahun ini pasti akan mulai dibangun," kata Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) saat ditemui di acara Metconnex, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro sebelumnya mengungkapkan dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada April 2026 bahwa Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan groundbreaking tersebut. PT Timah berperan sebagai pemasok bahan baku utama berupa sisa hasil produksi (SHP) timah.
Bahan sisa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal tersebut akan diolah oleh Perminas menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi. Kerja sama ini menargetkan proses monetisasi dapat tercapai dalam kurun waktu dua tahun ke depan untuk memperkuat devisa negara.
Program ini baru berjalan sekitar dua bulan dan saat ini masih berada dalam tahap kajian mendalam oleh kedua belah pihak. Meskipun jadwal groundbreaking berpotensi bergeser, Brian Yuliarto memastikan bahwa fisik bangunan fasilitas riset dan industri ini tetap mulai dikerjakan pada tahun 2026.