Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan batas maksimal produksi nikel sebesar 250 juta ton per tahun mulai 2026 demi menjaga ketahanan cadangan nasional yang diperkirakan habis dalam 11 tahun. Kebijakan ini disampaikan dalam diskusi di Jakarta Selatan pada Sabtu (25/4/2026) sebagai langkah mitigasi terhadap eksploitasi berlebihan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa total cadangan nikel Indonesia saat ini berada pada angka 5,9 miliar ton. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, usulan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari sektor swasta tahun ini sebenarnya mencapai kisaran 490 juta ton.
Kementerian ESDM menilai jika produksi tahunan dibiarkan menyentuh angka 500 juta ton, maka ketersediaan sumber daya tersebut akan terkuras habis dalam waktu singkat. Pengetatan produksi ini juga bertujuan untuk menyeimbangkan pasokan di tengah kondisi kelebihan suplai global saat ini.
"Apabila sesuai dengan RKAB yang di-propose oleh perusahaan maka RKAB tahun ini proposal perusahaan untuk nikel adalah 490 juta, apabila saya bulatkan katakanlah 500 juta ton. Apabila 500 itu dengan cadangan yang ada berarti hanya 11 tahun," ujar Tri Winarno, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM.
Selain masalah ketahanan cadangan, pemerintah menyoroti fluktuasi harga komoditas yang sangat tajam di pasar internasional. Pada tahun 2025, harga rata-rata nikel hanya bertahan di level US$ 15.000 per ton, merosot jauh dibandingkan periode sebelumnya yang pernah mencapai angka US$ 80.000 hingga US$ 100.000 per ton.
Kementerian ESDM mencatat bahwa Indonesia saat ini menguasai sekitar 65 persen dari total produksi nikel dunia. Dominasi ini memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan pasar, di mana pengumuman pembatasan produksi terbukti mampu mendongkrak harga dari US$ 14.800 menjadi mendekati US$ 18.800 per ton.
Pemerintah terus mendorong percepatan program hilirisasi sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi sektor pertambangan. Produk turunan nikel dinilai memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan harga yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan penjualan material mentah ke luar negeri.