Pemerintah Tahan Kenaikan Harga BBM Demi Daya Beli Masyarakat

Langkah pemerintah mempertahankan harga BBM diapresiasi Prasasti Center for Policy Studies, namun diprediksi sulit bertahan jika harga minyak global naik.

Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak 1 April hingga saat ini. Kebijakan ini, yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendapat apresiasi dari Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), demikian dilansir dari Detik Finance.

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, memberikan peringatan bahwa kebijakan menahan harga BBM ini tidak akan bertahan lama. Apabila harga minyak mentah global terus meningkat hingga akhir tahun, pemerintah akan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan stabilitas harga.

Piter Abdullah menekankan pentingnya pemahaman masyarakat dan pelaku bisnis terhadap situasi ini. "Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran," ujarnya pada Jumat (3/4/2026).

Lebih lanjut, Piter juga menyoroti potensi tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan. Kombinasi kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan fiskal memerlukan antisipasi yang cermat. Dalam situasi ketidakpastian global yang semakin tinggi, koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi menjadi sangat penting.

Menurut Piter, peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial dalam kondisi seperti sekarang. Dunia usaha dan pelaku pasar menantikan sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Keuangan terkait arah stabilitas sistem keuangan di masa mendatang.

Saat ini, harga minyak dunia sudah melampaui asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang berada di kisaran US$ 70 per barel. Padahal, harga pasar saat ini berfluktuasi antara US$ 90 hingga US$ 100 per barel.

Halim Alamsyah, Board of Experts Prasasti sekaligus mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan harga minyak yang tinggi secara berkelanjutan, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan hanya akan mencapai 4,7% hingga 4,9%.

"Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir," jelas Halim.

Recommended