Raksasa teknologi Apple resmi mengumumkan laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026 pada Sabtu (2/5/2026) dengan perolehan total pendapatan mencapai USD 111,2 miliar. Capaian ini menjadi rekor tertinggi untuk periode kuartal Maret yang didorong oleh performa penjualan iPhone 17 series.
Dilansir dari Detik iNET, sektor penjualan ponsel menyumbang kenaikan sebesar 22 persen menjadi USD 57 miliar di tengah tantangan ketersediaan komponen global. Angka tersebut memperkuat posisi lini produk terbaru mereka sebagai perangkat paling diminati konsumen saat ini.
CFO Apple, Kevin Parekh, menjelaskan kepada Financial Times bahwa seri iPhone 17 telah menjadi lini produk terpopuler sepanjang sejarah perusahaan. Parekh menyatakan keyakinannya bahwa Apple berhasil menambah pangsa pasar pada kuartal tersebut.
CEO Apple, Tim Cook, mengakui bahwa permintaan pasar terhadap iPhone sangat tinggi namun terkendala masalah rantai pasok. Cook menyebutkan fleksibilitas pengadaan komponen saat ini sedang menurun sehingga menghambat pemenuhan pesanan secara maksimal.
Hambatan utama produksi terletak pada ketersediaan chip A19 dan A19 Pro yang diproduksi oleh TSMC. Perusahaan asal Taiwan tersebut saat ini juga harus membagi kapasitas produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI).
Selain masalah chip, Cook menyoroti kenaikan biaya memori yang diperkirakan akan berdampak signifikan pada bisnis Apple mulai kuartal Juni mendatang. Apple sebelumnya telah melakukan penimbunan pasokan memori dalam jumlah besar untuk memitigasi kenaikan harga tersebut.
"Dan saat ini fleksibilitas di rantai pasok agak menurun untuk mendapatkan lebih banyak komponen," ujar Tim Cook, CEO Apple dalam wawancara bersama Reuters.
Selain iPhone, pendapatan Apple didukung oleh MacBook Neo versi terjangkau yang menghasilkan USD 8,4 miliar, sementara segmen iPad meraih USD 6,91 miliar. Bisnis layanan yang mencakup Apple Music dan Apple TV juga mencetak rekor pendapatan sebesar USD 30,98 miliar.