Seorang pendaki secara tidak sengaja menemukan fragmen ekosistem prasejarah berusia 280 juta tahun yang berisi jejak kaki hewan purba dan fosil tanaman di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia, pada Selasa (21/4/2026).
Penemuan yang dilaporkan oleh pendaki bernama Claudia Steffensen ini mencakup jejak kaki reptil, amfibi, hingga bekas tetesan air hujan dari era Permian yang membeku dalam batuan pasir. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik iNET, situs tersebut terletak di area dataran tinggi Alpen yang kini tersingkap akibat mencairnya lapisan es.
Analisis lanjutan oleh para ahli paleontologi mengonfirmasi bahwa jejak tersebut berasal dari ekosistem lengkap yang ada sebelum zaman dinosaurus. Bukti kehidupan purba ini tersebar di berbagai titik hingga ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut pada dasar lembah pegunungan tersebut.
Kondisi pelestarian fosil dinilai sangat luar biasa karena detail-detail kecil seperti bekas cakaran dan pola kulit perut hewan masih terlihat jelas. Fenomena pengawetan ini terjadi karena sedimen pasir dan lumpur di tepi sungai kuno mengeras di bawah sinar matahari sebelum tertutup lapisan tanah baru.
"Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan tersebut, mengeraskannya hingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak kaki tersebut, tetapi sebaliknya, menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung," ujar Ausonio Ronchi, Paleontolog dari Pavia University.
Para peneliti memperkirakan jejak tersebut berasal dari setidaknya lima spesies hewan yang berbeda. Beberapa di antaranya diyakini memiliki ukuran tubuh yang cukup besar, dengan panjang mencapai 2 hingga 3 meter atau sebanding dengan ukuran komodo modern saat ini.
Cristiano Dal Sasso, paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan, menegaskan bahwa meskipun dinosaurus belum muncul pada era tersebut, hewan-hewan yang meninggalkan jejak ini merupakan predator besar di masanya. Penemuan ini dianggap sangat penting karena berasal dari periode Permian yang diakhiri oleh peristiwa kepunahan massal 'Great Dying'.
Tim peneliti sebelumnya telah melakukan upaya pemindahan beberapa fragmen fosil menggunakan bantuan helikopter pada Oktober 2024 untuk analisis lebih mendalam di laboratorium. Saat ini, situs di Pegunungan Alpen tersebut terus dipantau untuk mencari indikasi temuan ilmiah lainnya seiring dengan terus menyusutnya tutupan salju.