5 Aktor Utama di Balik Krisis AS dan Israel vs Iran

Lima tokoh kunci yang berperan dalam konflik berkepanjangan antara AS dan Israel melawan Iran, meliputi pemimpin negara dan tokoh berpengaruh.

Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran merupakan eskalasi dari negosiasi yang gagal terkait program nuklir, serta respons terhadap demonstrasi besar yang menentang pemerintah Iran.

Menurut South China Morning Post (SCMP), Sabtu (28/2/2026), sejumlah tokoh memiliki pengaruh signifikan dalam krisis yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Berikut adalah lima tokoh utama yang berperan dalam krisis ini:

Presiden AS Donald Trump

Donald Trump, meskipun berupaya menampilkan diri sebagai pembawa perdamaian, mengambil sikap tegas terhadap Iran. Tahun sebelumnya, pasukan AS bergabung dalam perang Israel melawan Iran dengan menyerang fasilitas nuklir.

Trump memperingatkan akan bertindak keras jika pemerintah Iran menindak demonstran secara brutal. Doktrin tekanan maksimum era Trump bertujuan melemahkan Iran secara ekonomi dan diplomatik. Pada tahun 2018, AS menarik diri dari perjanjian internasional mengenai program nuklir Iran.

Negara-negara Barat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun Teheran bersikeras bahwa program mereka untuk kepentingan sipil. Trump sempat membuka negosiasi tidak langsung dengan Iran sambil terus meningkatkan ancamannya.

Ayatollah Ali Khamenei

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, 86 tahun, telah lama menjadi simbol perlawanan Iran terhadap musuh-musuhnya, khususnya AS dan Israel.

Sejak berkuasa pada tahun 1989, Khamenei mengawasi perkembangan program nuklir Iran, dengan menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah hak kedaulatan. Ekspansi pengaruh regional Iran di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman menjadi ciri utama kebijakan luar negerinya. Khamenei bersikeras bahwa Iran tidak akan menyerah kepada AS dan skeptis terhadap diplomasi.

Selama pembicaraan nuklir 2025, Khamenei meragukan kesepakatan akan berhasil dan berpendapat bahwa masalah Iran harus diselesaikan secara internal. Ia juga memperingatkan bahwa Iran mampu menenggelamkan kapal perang Amerika, menolak meninggalkan pengayaan uranium, dan tidak akan membahas program rudal Iran.

"Orang Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini itu akan menjadi perang regional," katanya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Benjamin Netanyahu telah lama menggambarkan ambisi nuklir Iran, persenjataan rudal, dan dukungan terhadap kelompok militan sebagai ancaman eksistensial.

Dorongannya untuk aksi militer terwujud selama perang 12 hari pada bulan Juni. Ia menegaskan bahwa Israel akan bertindak untuk mencegah kebangkitan kemampuan serangan Iran.

Netanyahu berharap "bangsa Persia akan segera dibebaskan dari kuk tirani". Ia juga memperingatkan bahwa "jika para ayatollah membuat kesalahan dan menyerang kami, mereka akan merasakan respons yang bahkan tidak dapat mereka bayangkan". Netanyahu berulang kali mendesak rakyat Iran untuk menggulingkan para pemimpin mereka dan memulihkan hubungan yang ada sebelum revolusi Islam 1979.

Reza Pahlavi, Putra Shah Iran

Putra tertua Shah Iran terakhir, Reza Pahlavi, memposisikan diri sebagai calon pemimpin transisi demokratis di Iran. Ia menjadi sorotan selama protes baru-baru ini, di mana slogan "Pahlavi akan kembali" menjadi populer.

Pahlavi, 65 tahun, mendesak warga Iran untuk bergabung dalam protes dan menyerukan demonstrasi di luar negeri. Ia juga mendesak Washington untuk campur tangan secara langsung untuk mendukung warga Iran yang berupaya menggulingkan pemerintah.

"Saya di sini untuk menjamin transisi menuju masa depan demokratis sekuler," kata Pahlavi kepada para pendukungnya di Munich. "Sudah waktunya mengakhiri republik Islam," ujarnya, sambil mendesak Trump untuk membantu.

Pahlavi tetap menjadi sosok yang memecah belah, terutama di dalam oposisi Iran. Ia menghadapi kritik atas dukungannya terhadap Israel, tempat ia melakukan kunjungan pada 2023.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

Mohammed bin Salman memiliki pandangan yang sama dengan negara-negara Teluk lainnya, yang mana mereka senang melihat Iran melemah, tetapi khawatir destabilisasi dapat memicu kekacauan di kawasan.

Arab Saudi memiliki hubungan yang tegang dengan Iran. Beberapa bulan setelah menjadi putra mahkota pada tahun 2017, Pangeran Mohammed menggambarkan Khamenei sebagai "Hitler" Timur Tengah.

Namun, Riyadh dan Teheran memulihkan hubungan pada 2023 melalui rekonsiliasi yang dimediasi oleh China. Stabilitas kawasan menjadi tujuan bagi Arab Saudi seiring upayanya menjalankan transformasi ekonomi. Ketika serangan AS terhadap Iran tampak mungkin terjadi bulan lalu, Arab Saudi dan monarki Teluk lainnya mendesak Washington untuk menahan diri. Pangeran Mohammed kemudian berjanji tidak akan mengizinkan serangan terhadap Iran dari wilayah Arab Saudi, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Recommended