Tim peneliti berhasil mengidentifikasi dua spesies mamalia berkantung atau marsupial langka di hutan hujan terpencil Semenanjung Vogelkop, Papua, pada Selasa, 21 April 2026. Salah satu spesies yang ditemukan merupakan hewan yang sempat diyakini telah punah dari catatan ilmiah selama ribuan tahun.
Dilansir dari Detik iNET, kedua satwa tersebut adalah pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai) dan ring-tailed glider (Tou ayamaruensis). Spesies Tou ayamaruensis menjadi sorotan utama karena sebelumnya dinyatakan hilang selama kurang lebih 6.000 tahun.
Penemuan ini menjadi signifikan karena ring-tailed glider termasuk dalam genus baru pertama yang berhasil ditemukan di wilayah Nugini sejak tahun 1937. Wilayah Vogelkop di Papua Barat yang minim eksplorasi menjadi faktor utama spesies ini sulit terdeteksi oleh para ahli dalam waktu yang sangat lama.
Profesor Tim Flannery dari Australian Museum memberikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan tim lapangan tersebut. Penemuan dua spesies sekaligus di satu kawasan dianggap sebagai pencapaian yang sangat menakjubkan bagi dunia ilmu pengetahuan alam.
"Penemuan satu spesies saja sudah luar biasa, menemukan dua sekaligus sangat menakjubkan," ujar Tim Flannery, Profesor dari Australian Museum.
Secara karakteristik, pygmy long-fingered possum memiliki ciri fisik unik berupa satu jari yang panjangnya mencapai dua kali lipat jari lainnya. Bagian tubuh ini berfungsi sebagai alat khusus untuk mencari larva serangga yang bersembunyi di balik batang kayu.
Sementara itu, ring-tailed glider merupakan hewan arboreal yang hidup di kanopi hutan dengan kemampuan meluncur antarpepohonan layaknya tupai terbang. Keberhasilan identifikasi kedua spesies ini sangat bergantung pada kontribusi besar dari masyarakat adat setempat di wilayah Maybrat.
Rika Korain, peneliti dari komunitas Maybrat, menegaskan bahwa pengetahuan tradisional warga lokal sangat membantu ilmuwan mengenali hewan yang belum terdokumentasi secara resmi. Hutan Vogelkop sendiri dinilai sebagai lanskap kuno yang secara geologis masih terhubung dengan daratan Australia masa lampau.
Ilmuwan memperingatkan bahwa meski penemuan ini membahagiakan, ancaman deforestasi dan aktivitas manusia tetap membayangi habitat asli kedua marsupial tersebut. Perlindungan kawasan menjadi mendesak agar spesies relik ini tidak benar-benar punah sebelum penelitian lebih mendalam dapat diselesaikan.