Pasar ponsel pintar dunia mencatatkan penurunan volume pengiriman sebesar 4,1 persen secara tahunan (YoY) dengan total 289,7 juta unit pada kuartal pertama yang berakhir Maret 2026. Laporan firma riset International Data Corporation (IDC) yang dilansir dari Medcom menyebutkan pelemahan ini mengakhiri tren pertumbuhan yang sempat bertahan selama sepuluh kuartal terakhir.
Keterbatasan pasokan memori dan lonjakan harga komponen menjadi pemicu utama kontraksi pasar pada awal tahun ini. Kondisi tersebut memaksa produsen menaikkan harga jual perangkat di tingkat konsumen, bahkan di beberapa pasar berkembang kenaikan harga dilaporkan mencapai kisaran 40 hingga 50 persen.
Meskipun pasar secara umum melemah, Samsung berhasil merebut kembali posisi puncak dengan mengirimkan 62,8 juta unit perangkat. Perusahaan asal Korea Selatan ini menguasai 21,7 persen pangsa pasar global berkat performa penjualan seri flagship Galaxy S26 Ultra dan lini menengah Galaxy A Series.
Apple menempati peringkat kedua dengan volume pengiriman mencapai 61,1 juta unit dan mengamankan pangsa pasar sebesar 21,1 persen. Perusahaan yang berbasis di Cupertino ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,3 persen secara tahunan yang didorong oleh tingginya permintaan terhadap iPhone 17 series, khususnya di pasar Tiongkok.
Sebaliknya, tekanan berat dirasakan oleh vendor asal Tiongkok seperti Xiaomi yang berada di posisi ketiga dengan pengiriman 33,8 juta unit. Xiaomi mengalami penurunan tajam sebesar 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat strategi pengurangan stok model lama.
Oppo dan vivo menyusul di posisi keempat dan kelima dengan masing-masing mengirimkan 30,7 juta unit dan 21,2 juta unit. Kedua vendor ini juga tercatat mengalami tren penurunan pengiriman di tengah pergeseran preferensi konsumen global yang kini lebih condong ke perangkat segmen premium.
IDC memprediksi tantangan industri masih akan berlanjut sepanjang tahun 2026 selama stabilitas pasokan memori belum tercapai. Namun, rata-rata harga jual perangkat diprediksi terus meningkat karena para produsen mulai fokus pada produk dengan margin keuntungan yang lebih tinggi.