Kerusakan pada kabel pengisi daya ponsel sering kali disebabkan oleh tekanan mekanis pada bagian persendian konektor akibat kebiasaan pengguna sehari-hari, sebagaimana dilaporkan melalui hasil pengujian laboratorium pada Jumat (1/5/2026).
Dilansir dari Detik iNET, penelitian yang dilakukan oleh Michael Pecht dari University of Maryland mengungkapkan bahwa anggapan mengenai cara menggulung kabel sebagai penyebab utama kerusakan merupakan sebuah mitos.
"Itu tidak masalah. Kami belum pernah melihat kerusakan yang disebabkan oleh cara menggulung yang salah," kata Michael Pecht, Pendiri Center for Advanced Life Cycle Engineering di University of Maryland.
Kyle Weins, pendiri situs perbaikan iFixit, menjelaskan bahwa kegagalan fungsi kabel hampir seluruhnya terjadi pada area pertemuan antara kabel dengan kepala colokan. Area ini merupakan titik paling rentan karena sering menerima beban tekukan.
Pakar teknik mesin dari Worcester Polytechnic Institute, Robert Hyers, menambahkan bahwa penekukan paksa secara terus-menerus merusak ikatan antaratom pada logam mikro di dalam kabel. Kondisi tersebut menyebabkan logam mengeras dan akhirnya patah secara permanen.
Beberapa kebiasaan yang diidentifikasi memperpendek umur kabel meliputi penarikan pada bagian badan kabel saat mencabut charger dan penggunaan ponsel dalam posisi rebahan yang memaksa kabel menekuk tajam. Penggunaan kabel yang terlalu pendek juga memberikan tekanan berlebih pada struktur internal.
Peletakan ponsel di dalam cup holder mobil saat sedang diisi daya turut memperparah risiko kerusakan. Guncangan kendaraan ditambah beban berat ponsel memberikan tekanan konstan tepat pada titik koneksi kabel yang lemah.
Sebagai solusi pencegahan, Weins merekomendasikan penggunaan kabel jenis braided atau berbalut anyaman nilon karena memiliki pelindung yang lebih kuat dibandingkan kabel plastik biasa. Material ini kini mulai diadopsi secara luas oleh produsen teknologi besar seperti Apple untuk meningkatkan daya tahan perangkat.