Pakar perikanan dari IPB University menyoroti tantangan besar dalam mengendalikan ledakan populasi ikan sapu-sapu yang bersifat invasif di perairan tawar Indonesia pada Jumat (24/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh absennya predator spesifik yang mampu memangsa ikan tersebut di habitat barunya.
Dr Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, menjelaskan bahwa ikan asal Amazon ini menyebar secara global sejak 1980-an. Awalnya diperdagangkan sebagai ikan hias pembersih akuarium, spesies ini kemudian memenuhi sungai akibat pembuangan oleh pemiliknya.
Dilansir dari Detik iNET, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan tinggi di perairan kotor dan mampu menghabiskan alga yang menjadi sumber makanan utama spesies lokal. Di Amerika Serikat hingga India, perkembangan spesies ini dilaporkan sangat masif pada sungai dengan suhu air hangat.
"Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan," ujar Dr Charles PH Simanjuntak, Pakar Ikan dan Konservasi FPIK IPB University.
Di habitat aslinya di Sungai Amazon, populasi ikan sapu-sapu dikendalikan secara alami oleh predator seperti ikan Common Snook, ikan Tarpon, buaya Spectacled Caiman, hingga burung Neotropic Cormorant. Namun, rantai makanan tersebut tidak terbentuk secara otomatis di ekosistem sungai Indonesia.
Dr Charles menambahkan bahwa ikan baung dan ikan betutu sebenarnya berpotensi menjadi predator lokal bagi ikan sapu-sapu di Tanah Air. Meski demikian, efektivitas kontrol biologis dari kedua ikan tersebut masih terbatas karena hanya mampu memangsa ikan sapu-sapu fase juvenil yang berukuran 0,6 hingga 1,0 sentimeter.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah mengambil langkah penanganan dengan mematikan atau mengubur ikan sapu-sapu yang tertangkap guna mencegah penyebaran lebih luas. Masyarakat diimbau untuk tidak membuang ikan ini ke aliran sungai demi menjaga keseimbangan ekosistem lokal.