Perang Iran berdampak pada industri chip global, meskipun fasilitas produksi chip tidak berlokasi di Timur Tengah. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan industri pada helium, yang merupakan komponen krusial dalam pembuatan chip dan sebagian besar dipasok dari Qatar.
Reuters melaporkan pada Jumat (27/3/2026) bahwa helium memegang peranan vital dalam industri chip, digunakan untuk pendinginan, deteksi kebocoran, dan proses manufaktur presisi. Harga helium mengalami peningkatan signifikan sejak awal konflik.
Helium diperoleh sebagai produk sampingan dari pengolahan gas alam. Qatar, sebagai produsen LNG (gas alam cair) terbesar, menyumbang sekitar 33% pasokan helium global, dengan produksi sekitar 63 juta meter kubik pada tahun 2025.
Cameron Johnson dari Tidal Wave Solutions menyatakan dalam acara Semicon China di Shanghai bahwa kelangkaan helium menjadi perhatian utama.
Beberapa pabrik chip memilih untuk memperlambat laju produksi atau fokus pada produk-produk yang dianggap paling esensial. Dampak dari kelangkaan helium ini diperkirakan akan mempengaruhi industri elektronik hingga otomotif, yang sangat bergantung pada chip.
Johnson menambahkan, "Jika ini terjadi, dampaknya akan terasa di sektor elektronik, otomotif, bahkan pada produksi smartphone."
Jerry Zhang dari VAT, perusahaan semikonduktor asal Swiss, mengungkapkan bahwa perang Iran telah memperketat pasokan helium, yang secara langsung mempengaruhi perusahaannya dan perusahaan lain. Mereka sedang menjajaki sumber pasokan alternatif, termasuk dari Amerika.
Berikut adalah rincian penggunaan helium di berbagai industri, dengan data konsumsi industri di Amerika Serikat per Februari 2026 sebagai gambaran global:
- Analitikal, permesinan, laboratorium, sains, gas khusus (22%)
- Ruang terkendali, fiber optik, semikonduktor (17%)
- Lifting gas (17%)
- Magnetic resonance imaging (MRI) (15%)
- Antariksa (9%)
- Pengelasan (8%)
- Diving (5%)
- Deteksi kebocoran (5%)
- Penggunaan lain (2%)