Persediaan Drone Iran Ungguli Sistem Pertahanan Udara?

Konflik Timur Tengah kini bergantung pada persediaan drone dan rudal Iran, melampaui pertahanan udara AS dan sekutunya.

Hasil peperangan di Timur Tengah diperkirakan akan ditentukan oleh jumlah drone dan rudal yang dimiliki Iran, dibandingkan dengan kemampuan pertahanan udara Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk. Iran beserta proksi-proksinya telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan ke berbagai target di hampir selusin negara sebagai respons terhadap serangan gabungan AS dan Israel.

Jangkauan serangan balasan Iran menjadikan konflik ini sebagai yang terluas di Timur Tengah sejak Perang Dunia Kedua. AS dan Israel berupaya untuk menghancurkan sebanyak mungkin cadangan rudal serta infrastruktur milik Iran, dengan menargetkan berbagai peluncur, tempat penyimpanan, dan personel militer.

Menurut Stacie Pettyjohn, direktur Center for a New American Security, konflik ini menjadi 'kompetisi salvo', yakni aksi saling tembak serentak dalam jumlah besar menggunakan senjata berpemandu presisi. Ia menambahkan bahwa pertanyaan utamanya adalah siapa yang memiliki cadangan senjata lebih banyak.

Serangan Iran ke Israel, yang menyebabkan 11 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka sejak awal konflik, intensitasnya menurun dalam 36 jam terakhir. Analis menduga bahwa Iran mungkin sedang berusaha mempertahankan cadangan rudalnya dan menyerang secara lebih efektif.

Tal Inbar, seorang peneliti di Missile Defence Advisory Alliance, berpendapat bahwa strategi Teheran mungkin adalah mencoba melemahkan musuh dengan meruntuhkan moral warga dan meningkatkan beban finansial. Ia mencontohkan bahwa jika sebuah rudal menghantam fasilitas vital seperti universitas, rumah sakit, atau pembangkit listrik, kerugian yang ditimbulkan bisa sangat besar.

Semua pihak yang terlibat dalam konflik berusaha untuk menenangkan warganya. Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan pernyataan yang membantah laporan bahwa mereka mulai kehabisan rudal pencegat. UEA mengklaim telah menghancurkan 161 dari 174 rudal balistik yang diluncurkan ke wilayahnya, serta 645 dari total 689 drone Iran.

Serangan Iran juga menyasar situs militer AS dan infrastruktur sipil di Qatar, Abu Dhabi, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Oman. Beberapa hotel internasional di Dubai dilaporkan terkena serangan, dan infrastruktur minyak di Arab Saudi mengalami kerusakan.

Qatar pun mengeluarkan pernyataan serupa mengenai keberhasilan mereka mendeteksi dan mencegat sebagian besar target udara. Kementerian Pertahanan Qatar mengklaim telah menembak jatuh dua jet tempur Iran, tiga rudal jelajah, 98 dari 101 rudal balistik, dan 24 dari 39 drone.

Kelly Grieco, seorang analis di Stimson Center di Washington, menyatakan bahwa sulit untuk mengetahui persediaan senjata di Teluk. Akan tetapi, negara-negara tersebut menghabiskan amunisi dengan sangat cepat dan harus segera mengambil keputusan mengenai fasilitas mana yang harus diprioritaskan.

Pihak Iran menyadari hal ini, sehingga rentetan tembakan mereka tidak terlalu besar dengan tujuan untuk menjaga serangan tetap berjalan, seperti yang dikutip detikINET dari Guardian.

Pettyjohn memperingatkan bahwa jika cadangan pertahanan udara habis, hal itu mungkin akan mendorong Israel dan AS untuk menghentikan serangan dan mencoba mencapai semacam penyelesaian melalui negosiasi. Sebaliknya, jika Iran kehabisan rudal, mereka mungkin terpaksa meminta damai.

Recommended