Rupiah Melemah ke Level Rp17.190 per Dolar AS pada April 2026

Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.190 per dolar AS pada Jumat (17/4/2026), menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga menyentuh level Rp17.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, 17 April 2026. Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa paling rendah di kawasan sepanjang bulan April.

Dilansir dari Medcom, angka penutupan terakhir menunjukkan USD/IDR berada di posisi Rp17.189, yang mencerminkan penurunan harian sebesar 0,3 persen. Meski terjadi pelemahan harian, secara akumulatif bulanan rupiah masih tercatat menguat 0,8 persen dan naik 1,8 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti kontrasnya pergerakan rupiah dengan indeks dolar AS. Menurutnya, indeks dolar cenderung stabil di angka 98 dan bahkan menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal global, melainkan mulai mencerminkan faktor domestik yang lebih spesifik," jelas Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Sinyal ketahanan ekonomi dari lembaga pemeringkat internasional belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi mata uang Garuda. S&P Global Ratings tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan proyeksi stabil, namun pasar valuta asing masih memberikan tekanan jangka pendek.

Situasi ini berbanding terbalik dengan mata uang utama lainnya yang justru menguat tajam terhadap dolar AS selama April. Euro mencatatkan kenaikan sebesar 9,1 persen, sementara pound sterling Inggris tumbuh 7,7 persen secara month-to-date akibat pergeseran aliran modal global.

Di Asia, pergerakan mata uang terpantau beragam. Won Korea Selatan tercatat menguat 1,3 persen dalam sehari, sedangkan yen Jepang melemah 0,3 persen secara harian meski secara tahunan masih mencatat kenaikan sebesar 12,6 persen.

Yuan China cenderung bergerak stabil dengan pelemahan tipis 0,1 persen secara harian, walaupun secara tahunan telah merosot hingga 6,5 persen. Dinamika ini dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan kondisi spesifik ekonomi masing-masing negara di kawasan tersebut.

"Dengan latar belakang tersebut, kami menilai nilai tukar Rupiah masih akan menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar keuangan domestik dalam jangka pendek," pungkas Rully.

Recommended